18 Januari 2009
OBAMA, JURU SELAMAT
Euforia atasnya tentu saja bukan semata bahwa ia menggebrak sejarah, terkhusus sejarah kepresidenan AS, negara raksasa yang entah sampai kapan meraksasa itu. Lelaki berkulit gelap dengan nama diri yang tidak Amerika : Barack Husein Obama. Manusia kulit hitam pertama yang manjadi presiden AS dengan nama berseparuh dengan almarhum presiden Irak yang mati digantung.
Mengapa ia sebegitu menyedot perhatian sehingga hampir semua negara perlu mengeksposnya habis-habisan dan menyanjungnya setinggi langit? Pelantikannya disiarkan berbagai televisi baik langsung maupun tidak. Demikian penting seorang presiden sebuah negara bagi hajat hidup orang banyak?
Well, AS raksasa berkuasa meski kini tengah sempoyongan dirundung krisis ekonomi. Jalin-kelindan ekonomi-politik-militer antarnegara di dunia ini sungguh berpusar pada AS. Negara inilah yang menjadi kiblat kapitalisme yang pernah dipercaya menjadi satu-satunya keniscayaan dalam berperikehidupn. JIka kiblat itu sempoyongan maka semponyongan pulalah jamaahnya.
Tempik sorak atas kehadiran seorang Obama menandakan ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang rusak. Sesuatu yang akut. Segelora besar harapan. Obama diperlakukan bak mesias bagi dunia yang perlu juru sembuh.
Suatu ketika ada negara luluh lantak. Atas alasan negara tersebut menyimpan Senjata Pemusnah Massal maka perang diperlukan. Ribuan mati sia-sia dalam 1001 justifikasi yang terus-menerus dibentuk dari Gedung Putih. Negeri seribu satu malam nan malang.
Manusia yang masih punya ceruk nurani geram tanpa bisa berbuat apa-apa. Kegeraman akut yang bermetamorfosis dalam wujud euforia akan mesias bernama Barack Obama. Dari negara raksasa tersebut diharapkan muncul pemimpin waras yang masih memiliki nurani selayaknya manusia baik-baik: membenci keserakahan, kesewenangan, dan kekerasan.
Bagaimana sekiranya juru sembuh itu kemudian hari tak memenuhi segenap harapan yang dibebankan kepadanya? Sebaiknya jangan terlalu banyak berharap. Namun tak perlu pesimis. Yang jelas, tidak mudah merombak sebuah sistem yang relatif mapan. Mampukah seorang Obama -misalnya- melepaskan AS dari kekuasaan lobi Yahudi yang mengakar demikian dalam ?Mampukah dia membuat perubahan kebijakan yang fundamental dalam peta konflik di Timteng -misalnya- dengan bersikap lebih keras terhadap Israel dan tanpa standar ganda khas AS ?
Atas segalanya, manfaat instan dari seorang Obama adalah bahwa kualitas kemudaannya menebarkan inspirasi positif bagi kehidupan demokrasi. Muda, pintar, bersih, visioner, dilengkapi rekam jejak multikulturalisme -sebentuk identitas gado-gado yang diharapkan mampu memahami dunia yang gado-gado.
Diposkan oleh
meiditami
di
11:28:00 PM
0
komentar
Link ke posting ini
Label: internasional, persona
10 Agustus 2008
TOLERANSI TIDAK CUKUP
Toleransi sesungguhnya maya, mencurigakan, ambigu dan tentu saja tidak berguna sebagai sebuah solusi. Demikian kawan saya di Facebook, Bonny Rambatan, mengutip kegusaran Slavoj Sisek, yang lalu berkembang menjadi diskusi yang cukup menarik. Kepalsuan toleransi, seperti manusia bermuka dua yang memelihara jarak demi keamanan namun tak pernah bisa mencintai dan memahami secara bulat. Sebentuk sikap yang berarti: oke, mari kita hidup berdampingan, namun jangan berani-berani berharap banyak!
Umat Muslim bisa mengaku menoleransi umat Kristen namun disertai wanti-wanti: jangan bangun gereja atau melakukan kebaktian di sini. Umat Kristen pun bisa mengaku sedang bertoleransi namun diam-diam was-was tetangga Muslimnya melempar bom atas nama jihad. Toleransi adalah pelipur, didengungkan sembari membangun demarkasi. Barangkali gambaran konkrit adalah praktik toleransi ala Orde Baru Soeharto. Tenang di permukaan, rapuh di dalam. Begitu orba itu tumbang, konflik di bawah karpet menggeliat lalu pecah.
Menanggapi tesis Zizek yang dikutip Bonny, Ulil Abshar Abdalla menegaskan perlunya lebih dari sekadar toleransi yang baginya merupakan upaya paling minimal dari seseorang yang hendak hidup berdampingan dalam sebuah masyarakat majemuk. Diperlukan sikap inklusif berupa kemampuan menghayati visi dan tradisi agama lain, bahkan siap mengkritik visi agama sendiri setelah mempelajari visi agama lain (tentu saja sebagian besar umat akan teriak: memangnya ada yang salah dengan visi agama yang bersumber dari Tuhan ini ?). Bayangkanlah bahwa inklusivisme bahkan merentangkan pertanyaan pada anda: benarkah agama saya satu-satunya jalan keselamatan ?
Saya ingin mencatat beberapa hal. Pertama, toleransi jelas bukan solusi akhir. Silakan berputus asa jika anda berpikir demikian. Toleransi salah satu upaya -Ulil bahkan menyebutnya upaya minimal- dari ratusan upaya dalam berperikehidupan yang sehat. Kedua, kecurigaan Zizek patut direnungkan terlebih lagi jika kita merasa sekadar terpaksa bertoleransi. Ketiga, jangan-jangan diskusi toleransi sekadar masalah operasional belaka. Sebenarnya bukan soal anda bertoleransi atau tidak, tapi seperti apa cara hidup anda dengan orang-orang yang berbeda agama, adat, kebiasaan, orientasi seksual, dsb. Menghancurkan? Memaksa? Mau menjadi pengatur utama?
Diposkan oleh
meiditami
di
11:21:00 PM
1 komentar
Link ke posting ini
Label: agama
24 Juli 2008
KITA YANG MEMAKLUMI PEROMPAK
Seminggu terakhir ini koran harian bacaan saya membentangkan abses korupsi di negeri tercinta ini. Sekiranya lambang negara Garuda Pancasila menjelma organisma hidup, sekujur bebulunya rontok habis-habisan didera nestapa. Perbuatan korupsi telah menjadi kelaziman tak bermalu, dihadapi dengan sedikit drama, berujung pada hukuman tak memuaskan.
Drama itu dapat berupa panggung pengadilan yang kerapkali otoritasnya pun diselewengkan, lara istri-istri koruptor yang membesarkan hati Sang Suami, Sang Pesakitan yang membagi-bagi ayam goreng lekas saji kepada wartawan setelah berusaha berkelit membiayai para jaksa main golf ke Cina (sedaap!), lalu keputusan akhir yang terasa basa-basi karena rasanya kurang setimpal (apakah kekejian algojo mutilasi Very Idham Henyaksyah yang diduga telah menghabiskan nyawa kurang lebih 27 orang lebih parah ketimpang kekejian para koruptor bebal itu?)
Korupsi ini melanda hampir segenap institusi di negari ini: Kantor Pos, Departeman Pertanian. Departemen Perhubungan, Bea dan Cukai, Pertamina, TVRI, BNI, Departemen Dalam Negeri, Departemen Kehutanan, TNI, BI, TASPEN, Kejaksaan Agung, Departemen Sosial, DEPHAM, Komisi Yudisial (Kompas, 22/7/08). Jangan lupa peserta tetap jamaah bebal ini: Dewan Legislatif Yang Terhormat.
Segala yang berkaitan dengan hajat hidup bermasyarakat melulu tertimpa kutipan: mengurus KTP atau paspor, mengambil ijazah di Bagian Akademik Universitas, bahkan hingga ke sumbangan dan subsidi sosial seperti bantuan bencana alam serta BLT. Mekanisme ini lalu menjelma menjadi mekanisme wajar dan memang begitulah. Mau bagaimana lagi.
Mengapa para perompak ini nampak bebal? Karena korupsi adalah tindakan wajar dan biasa-biasa saja. Semua manusia di Republik ini melakukannya. Korupsi masuk ke dalam sistem, menyerap orang-orang yang akhirnya limbung kehilangan orientasi benar-salah. Bukan perompak yang berada dalam belantara perompak serta-merta mahluk angkasa luar yang ganjil, kalau bukan romansa situs purba moralitas.
Danial Sparingga menyebutkan masyarakat -kita- menjadi salah satu faktor merajalelanya budaya korupsi. Kita penghamba kedigdayaan materi, tidak lagi mencibir atau menggunjingkan kekayaan seseorang yang kita tahu persis diperoleh dengan merompak. Kita mungkin bahkan dibelenggu hasrat sama dan mencari jalan memenuhinya. Betapa sedapnya kemakmuran itu. Kita juga tidak ingin berbelit-belit dalam sebuah urusan kalau cuma soal perlu pelicin untuk membereskannya. Kita tidak malu menyontek dalam sebuah ujian bahkan bergerombol girang mencari bangku statregis yang bisa luput dari kejaran mata pengawas.
Beberapa tahun lampau seorang kawan hendak mengambil ijazah sarjana yang telah dilegalisir di universitasnya, sebuah institusi akademik di Timur Indonesia. Berminggu-minggu kopian ijazah itu ditumpuk di meja. Seorang rekannya yang lebih akhir memasukkan berkas mengambil ijazah yang telah dilegalisir dalam tempo sesingkat-singkatnya. Ia mengikuti praktik umum: menyelipkan uang. Pelayanan segera dilakukan sepenuh hati. Kawan saya yang memang jujur itu datang dan menggebrak meja: "Mengapa Bapak mendahulukannya hanya karena dia membayar? Ini kan tugas Bapak??!"
Betapa heroiknya. Hingga kini saya masih bisa membayangkan matanya yang melotot dan keberaniannya. Saya ingin menyerap kegalakannya dan tidak menjadi salah satu anggota masyarakat yang memaklumi perompak karena akhir-akhir ini saya merasa biasa-biasa saja menonton Al Amin Nasution, Bulyan Royan atau Yusuf Emir Faisal. Serupa memandang sebaris tiang listrik di dukuh Karangwuni : centang perenang namun biasa-biasa saja karena semua begitu.
nb:
moga pembaca tulisan ini kebanyakan akan berkata: "Kita..! Elo kaliiii...!"
Diposkan oleh
meiditami
di
9:12:00 AM
3
komentar
Link ke posting ini
15 Juli 2008
KETIKA ZAM MEROKOK

Ketika Zaskia Adya Mecca -seorang artis berjilbab- ketahuan merokok, reaksi dominan netters pada sebuah forum diskusi adalah mencelanya sebagai munafik. Tidak pantas perempuan berjilbab merokok karena merokok sama dengan tidak bermoral. Dan pengguna jilbab pastilah -minimal diharapkan- bermoral. Oh.
Apakah moral itu? Sejak kapan kegiatan merokok berkaitan dengan moral seseorang? Sejahat apakah seorang manusia yang mengisap lintingan tembakau selain kejahatan terhadap kesehatan tubuhnya sendiri (dan tubuh orang lain yang dipapar asap rokoknya) ? Lalu apakah munafik itu?
Terdapat asumsi 'kuno' tentang rokok dan perempuan di Indonesia. Perempuan yang merokok adalah bukan perempuan baik-baik. Liar. Rokok itu dunia lelaki. Zaskia Adya Mecca adalah perempuan dan berjilbab, itulah masalahnya. Jilbab adalah citra kesalehan. Kesalehan adalah penyelesaian, bukan menjadi. Masyarakat mengharapkanmu manusia purna. Ibarat sebuah pendakian, mengikat diri dalam bentuk kesalehan seperti jilbab berarti engkau telah mencapai pucuk Himalaya. Masyarakat tak ingin melihat kekurangan, meski yang dianggap kekurangan itu tak jelas musababnya. Kepatutan yang diinginkan dicampurbaur dengan persoalan moralitas dan hukum agama.
Beberapa tokoh agama Islam yang saya tahu adalah perokok. Segelintir mencercanya. Dengan lain kata, reaksi masyarakat terhadap perilaku merokok tokoh-tokoh tersebut biasa-biasa saja, tak sehebat terhadap seorang ZAM. Jika kemarahan tersebut berakar dari anggapan pelanggaran ZAM atas Hukum Islam, seharusnya reaksi sama diberikan kepada tokoh-tokoh Islam lainnya, kan? Namun tidak terjadi. Zaskia Adya Mecca adalah perempuan dan tokoh-tokoh tersebut lelaki. Padahal lelaki-lelaki itu adalah orang-orang yang dianggap mumpuni dalam bidang Hukum Islam.
Mengapa kita mencela perempuan merokok, atau terkhusus, seorang perempuan berjilbab untuk perilaku yang status hukumnya dalam fiqih Islam pun masih diperdebatkan? Bukankah para fuqaha bersilang-pendapat atasnya? Bukankah ada yang berpendapat merokok itu makruh, mubah atau malah haram? Bukankah merokok tidak sama dengan makan babi sehingga yang melakukannya tidak tergolong pengkhianat agama?
Anehnya, yang meributkan betapa munafiknya ZAM dengan perilaku merokoknya adalah orang-orang terpelajar juga. Saya ingin bilang betapa saya mengira orang-orang terpelajar itu bisa menempatkan sesuatu secara proporsional. Di desa, perempuan melinting dan menghembuskan rokok dengan enaknya dan tak seorangpun yang menganggapnya aneh apalagi sebagai contoh perempuan tak bermoral. Merokok barangkali dianggap serupa mengunyah sirih.
Indonesia dengan masyarakat yang konon religius ini, ekspektasi terhadap tokoh, ikon atau pembawa citra-citra kesalehan begitu tinggi. Tidak beres sedikit saja segera mengundang kecaman. Jika ia tokoh dengan muatan komersial, bisa dipastikan ia segera tak bakal laku lagi. Kasus poligami Aa Gym misalnya , pendakwah yang sebelumnya begitu disanjung sedemikian rupa. Orang-orang merindukan figur profetik. Ketika figur itu tak sesuai harapan, ia ditinggalkan.
Barangkali lebih bijaksana jika tidak menisbatkan 'munafik' dan 'amoral' kepada ZAM melainkan menitikberatkan kepada kesadaran atas kesehatan dirinya sendiri . Ataupun jika kita memiliki kepedulian pada cita-cita kesalehan, mengingatkannya untuk lebih baik berhati-hati terhadap sesuatu yang status hukumnya masih diperdebatkan. Mungkin pula ZAM perlu diberi sedikit kesadaran tentang psikologi masyarakat Indonesia, terkhusus umat Islam Indonesia. Merokoklah dalam kesenyapan (meski tidakkah ini lebih 'munafik' ketimbang terang-terangan seperti yang dilakukannya dalam foto tersebut?).
Seseorang di forum tersebut ngedumel : ribut banget seh perempuan berjilbab merokok. Emang gak biasa liat jilbaber-jilbaber di Turki, di AS atau di Perancis merokok?
Ya, mungkin tidak biasa?
Di negara-negara seperti yang disebutkan tersebut barangkali masyarakat bisa membedakan kemanusiaan seseorang secara lebih proporsional. Barangkali mereka juga tak terlalu perduli apalagi menisbatkan harapan-harapan profetik terhadap orang lain. Barangkali mereka lebih sibuk mengurus hal-hal yang dianggap lebih penting ketimbang perempuan yang menyesap sari tembakau. Barangkali juga film-film, sinetron, opera sabun di negara tersebut tak mengidentikkan tema-tema kebaikan dengan simbol-simbol agama dan kesalehan. Orang baik bisa berjilbab dan tidak berjilbab, orang brengsek bisa berjilbab dan tidak berjilbab.
Jika ZAM disebut amoral karena merokok, tidakkah buruh-buruh pabrik rokok yang Muslim sama amoralnya?
Diposkan oleh
meiditami
di
8:04:00 PM
4
komentar
Link ke posting ini
20 Februari 2008
Released : 4 Januari 2008
Genre : Drama-Roman
Sutradara : Joe Wright
Pemeran : Keira Knightley, James McAvoy, Saoirse Ronan
Genre : Drama-Roman
Sutradara : Joe Wright
Pemeran : Keira Knightley, James McAvoy, Saoirse Ronan
Cecilia,
Akan kembali padamu
menemuimu
bercinta denganmu
menikahimu
Dan hidup tanpa
malu
Rumah kita, tepi deburan
ombak
menemuimu
bercinta denganmu
menikahimu
Dan hidup tanpa
malu
Rumah kita, tepi deburan
ombak
-Surat Robbie Turner kepada Cecilia Tallis yang digubah-
ATONEMENT
Mengapa fitnah disebut lebih kejam dari pembunuhan? Karena Anda membunuh jiwa orang yang lalu tidak mati. Orang yang Anda fitnah, mati secara mental dan harkat, namun jasadnya sedang melangsungkan kehidupan bersama Anda.Berangkat dari novel Ian McEwan. Inggris 1935. Sebuah mansion memencil dengan langit-langit tinggi, tembok berbunga-bunga, aliran udara memancar masuk, kanak-kanak yang bermain sandiwara dan berkeluh-kesah. Briony Tallis (Saoirse Ronan), perempuan tiga belas tahun yang gemar menulis, menciptakan cerita. Imajinasinya liar, tumbuh.
Tumbuh bersama, berkembanglah ketertarikan antara Cecilia dan Robbie. Perasaan itu diam, tak pernah dibicarakan hingga tiba pada insiden Cecilia membenamkan diri di kolam, mencari pecahan vas keramik, lalu muncul dengan baju ketat menempeli tubuh. Keduanya menyadari ketertarikan dan tensi seksual. Adegan ini direkam dan diterjemahkan Briony sebagai kekerasan seksual Robbie terhadap Sang Kakak. Briony melanglang dengan imajinasi dan prasangka kanak-kanaknya. Secarik surat yang salah, hubungan seksual Cecilia dan Robbie di perpustakaan, mempertegas kesimpulan Briony.
Ketika Lola (Juno Temple) -sepupu Briony- ditemukan diperkosa dalam kegelapan malam, Briony dengan penuh percaya diri, keyakinan dan kesumat, mengajukan Robbie sebagai tersangka. Siapa yang tidak mempercayai kanak-kanak? Maka Robbie dikirim ke penjara. Cecilia memutuskan kontak dengan keluarganya karena tidak mempercayai tuduhan atas Robbie, sepanjang hayat setelahnya mempersalahkan Briony.
Perang Dunia I pecah empat tahun kemudian. Robbie bergabung pada British Expeditionary Force. Di London, di pagi yang cerah, pada sebuah kafe nan riuh, Robbie dan Cecilia bertemu kembali. Dua cangkir teh. Jemari yang gemetaran. Ekspresi Robbie yang pahit dan merindu. Cecilia yang memohon "come back to me". Air mata yang tertahan. Sebuah adegan yang paling menggigit, mengharu-biru. Briony menjadi perawat. Tumbuh dengan kesadaran akan kesalahannya yang tak termaafkan.
Pada ujung cerita, Briony tua yang mengidap vascular dementia, diwawacarai di televisi perihal novel terbarunya, Atonement. Penebusan diakuinya hanya mampu dilakukan dalam novel otobiografis tersebut: mempertemukan cinta Cecilia dan Robbie. Kenyataannya, setelah pertemuan di London, Cecilia dan Robbie tidak pernah lagi bertemu. Keduanya mati dihempas peperangan. Menciptakan kebahagiaan dan menggenapkan keinginan tokoh-tokohnya , itulah yang dilakukan Briony dalam novel Atonement. Katarsis bagi dirinya sendiri.
Bagi penonton, novel Briony ini, yang dijewantahkan seolah bagian dari realisme narasi Robbie-Cecilia dalam film, seolah penghiburan dan penutup yang melegakan. Namun, mungkin kekecawaan segera menyergap Anda, begitu menyadari bagian tersebut merupakan khayalan Briony Tallis, sang novelis ternama, yang khayalannya pernah menghancurkan hidup orang lain.
Beberapa adegan dalam film ini, terkhusus di awal cerita, menggunakan dua sudut pandang: perpektif Briony Kecil dan fakta yang sesungguhnya terjadi. Kekuatan film ini terletak pada teknik dan struktur cerita serta sinematografi yang indah-puitik. Kekuatan gambar mampu membangun suasana elegi. Penonton segera dihanyut kesedihan (sekiranya Anda cukup sentimentil, mungkin bisa menitikkan airmata) . Merasakan pendulum nasib melemparkan manusia di jagat tak bertepi, sebagaimana Cecilia yang diamuk bah dalam insiden Balham Tube Station, dan Robbie yang berakhir di pantai Dunkirk.
Dalam Golden Globe 2008, Atonement memenangkan Best Motion Picture untuk kategori drama, Best Original Score, Motion Picture, juga delapan nominasi dalam Academy Awards tahun ini.
Saat itu, kakak perempuan Briony, Cecilia (Keira Knightley) dan Robbie (James McAvoy), putera pengurus mansion tersebut, pulang dalam rangka liburan musim panas. Cecilia dan Robbie sama-sama kuliah di Cambridge. Tiga sepupu Briony turut berkumpul di mansion karena kedua orangtuanya dalam proses perceraian.
Tumbuh bersama, berkembanglah ketertarikan antara Cecilia dan Robbie. Perasaan itu diam, tak pernah dibicarakan hingga tiba pada insiden Cecilia membenamkan diri di kolam, mencari pecahan vas keramik, lalu muncul dengan baju ketat menempeli tubuh. Keduanya menyadari ketertarikan dan tensi seksual. Adegan ini direkam dan diterjemahkan Briony sebagai kekerasan seksual Robbie terhadap Sang Kakak. Briony melanglang dengan imajinasi dan prasangka kanak-kanaknya. Secarik surat yang salah, hubungan seksual Cecilia dan Robbie di perpustakaan, mempertegas kesimpulan Briony.
Ketika Lola (Juno Temple) -sepupu Briony- ditemukan diperkosa dalam kegelapan malam, Briony dengan penuh percaya diri, keyakinan dan kesumat, mengajukan Robbie sebagai tersangka. Siapa yang tidak mempercayai kanak-kanak? Maka Robbie dikirim ke penjara. Cecilia memutuskan kontak dengan keluarganya karena tidak mempercayai tuduhan atas Robbie, sepanjang hayat setelahnya mempersalahkan Briony.
Perang Dunia I pecah empat tahun kemudian. Robbie bergabung pada British Expeditionary Force. Di London, di pagi yang cerah, pada sebuah kafe nan riuh, Robbie dan Cecilia bertemu kembali. Dua cangkir teh. Jemari yang gemetaran. Ekspresi Robbie yang pahit dan merindu. Cecilia yang memohon "come back to me". Air mata yang tertahan. Sebuah adegan yang paling menggigit, mengharu-biru. Briony menjadi perawat. Tumbuh dengan kesadaran akan kesalahannya yang tak termaafkan.
Pada ujung cerita, Briony tua yang mengidap vascular dementia, diwawacarai di televisi perihal novel terbarunya, Atonement. Penebusan diakuinya hanya mampu dilakukan dalam novel otobiografis tersebut: mempertemukan cinta Cecilia dan Robbie. Kenyataannya, setelah pertemuan di London, Cecilia dan Robbie tidak pernah lagi bertemu. Keduanya mati dihempas peperangan. Menciptakan kebahagiaan dan menggenapkan keinginan tokoh-tokohnya , itulah yang dilakukan Briony dalam novel Atonement. Katarsis bagi dirinya sendiri.
Bagi penonton, novel Briony ini, yang dijewantahkan seolah bagian dari realisme narasi Robbie-Cecilia dalam film, seolah penghiburan dan penutup yang melegakan. Namun, mungkin kekecawaan segera menyergap Anda, begitu menyadari bagian tersebut merupakan khayalan Briony Tallis, sang novelis ternama, yang khayalannya pernah menghancurkan hidup orang lain.
Beberapa adegan dalam film ini, terkhusus di awal cerita, menggunakan dua sudut pandang: perpektif Briony Kecil dan fakta yang sesungguhnya terjadi. Kekuatan film ini terletak pada teknik dan struktur cerita serta sinematografi yang indah-puitik. Kekuatan gambar mampu membangun suasana elegi. Penonton segera dihanyut kesedihan (sekiranya Anda cukup sentimentil, mungkin bisa menitikkan airmata) . Merasakan pendulum nasib melemparkan manusia di jagat tak bertepi, sebagaimana Cecilia yang diamuk bah dalam insiden Balham Tube Station, dan Robbie yang berakhir di pantai Dunkirk.
Dalam Golden Globe 2008, Atonement memenangkan Best Motion Picture untuk kategori drama, Best Original Score, Motion Picture, juga delapan nominasi dalam Academy Awards tahun ini.
Diposkan oleh
meiditami
di
8:20:00 PM
1 komentar
Link ke posting ini
Label: film
16 Februari 2008
JE T'AIME MOI NON PLUS
Sepotong lagu oldies berbahasa Perancis kontroversial yang dipopulerkan duet Jane Birkin dan Serge Gainbourg pada tahun 1969. Lagu ini mengalami nasib dilarang di Italia, Polandia, Spanyol, Portugal dan Inggris. Vatikan bahkan mengeluarkan sabda pengharaman. Ada apa dengan lagu ini?Karena orangtua saya pengumpul lagu oldies (sampul kaset atau cd-nya biasanya ditajuk evergreeen, everlasting, memories, great love songs), Je T'aime non Plus menjadi salah satu lagu familiar, menjadi kesukaan, dengan kebutaan maknanya. Bagi saya, lagu itu enak, unik, sedikit ganjil karena seperti dialog dua pengidap asma.
Seiring dengan kesadaran yang berkembang, kira-kira ketika sudah duduk di SMP (masa ketika saya mulai serius menyimak, mulai menjadi pembaca koran intens, mulai tertarik pada film dan bahasa), saya mengerti mengapa lagu itu dikecam habis-habisan di beberapa wilayah, bahkan di Perancis sendiri. Kecaman yang malah menjadikannya semakin populer di Eropa, kecuali tentu saja di negara-negara yang melarangnya secara resmi (tapi tentu saja populer diam-diam. Sesuatu yang dilarang bukankah justru diuber?) Saya malah masih mengingat samar-samar sepotong artikel di koran Indonesia, entah di Kompas entah di Sinar Harapan (dulu kami berlangganan kurang lebih sepuluh koran ) yang membahas lagu ini. Bacaan itu menempelkan dalam kepala saya: sebuah lagu dilarang karena erotis.
Erotis? O, silakan mencari lagu ini. Sepasang kekasih sahut-menyahut dengan nafas memburu: penjelasan ekplisit hubungan seksual. Suara Serge berat, suara Jane manis-feminin. Lirik lagunya sendiri jelas-jelas mendeskripsikan aktivitas percintaan. Maka ditingkahi deru nafas memburu, lenguhan dan desahan (wikipedia menyebutnya "suara orgasme Birkin) maka lengkaplah Je t'aime moi non plus (I love you..Me neither) dapat didakwa sebagai perusak moral umat manusia. Bahasa Perancis yang sexy makin menegaskan erotisme. Saya kira bahkan lagu-lagu masa kini relatif dikalahkan oleh 'keterusterangan' lagu ini.
Awalnya lagu ini ditulis Serge Gainsbourg untuk kekasihnya waktu itu, artis sexy Brigitte Bardot. Bertahun-tahun kemudian Gainsbourg bertemu (dan menjadi kekasih) artis Inggris, Jane Birkin, lagu itu lalu dipersembahkan untuknya. Di Inggris, perusahan rekaman Fontana, menarik lagu itu dari peredaran sebagai bentuk tanggungjawab moral. Padahal Je T'aime Non Plus telah menempati tangga kedua pada pop charts. Label Major Minor lalu mengambil-alih otoritas komersialnya.
Simak frasa-frasa berikut ini:
Je vais et je, entres tes reins
Tu es la vague, moi I'ile nue
L'amour physiqiue et sans issue
Non! Maintenant, viens
I come and I go between your hips
You are the wave, I'm the naked island
Physical love is dead and street
It's racy stuff allright
Bayangkan tahun 1969. Revolusi seksual. Pergeseran pandangan tentang sex, dari suatu yang dianggap privat dan patut disembunyikan, menjadi sesuatu yang secara terbuka layak diungkapkan sebagai insting alamiah manusia. Lagu ini seperti mewakili salah satu elannya. Namun demikian, terbukti tetap menghadapi resistensi, menyiratkan bahwa ekpresi seksual manusia ditempatkan di ceruk rahasia.
Meski demikian, toh Je t'aime Moi Non Plus menjadi salah satu koleksi oldies. Anda mudah sekali menemukannya di negeri ini, yang intitusi agamanya berikut derivatnya merasa perlu melakukan sweeping terhadap sesuatu yang dianggap dapat merusak moral dan martabat manusia.
Jika Anda belum pernah mendengar lagu ini atau akan mendengar lagu ini, mungkin Anda mengira Je'taime Moi Non Plus hikayat sepasang manusia berlainan jenis yang butuh bantuan pernafasan?
Diposkan oleh
meiditami
di
3:56:00 PM
0
komentar
Link ke posting ini
Label: budaya pop
07 Februari 2008
SAYANG, AKU MENCINTAIMU KARENA KAU BEGITU PUTIH...!
Entah bagaimana muasalnya, perempuan pertama menyimpulkan kulitnya yang tidak putih sebagai biang kesialan. Tidak perlu hipotesis. Kulit putih selalu lebih memikat lelaki, jadi wajar saja kekasih berpaling. Karena hidup memerlukan perjuangan dan kerja keras, perempuan nestapa mencoba memperbaiki nasib. Bukankah Paolo Coelho dan The Secret mengajarkan alam semesta mengirimkan bala bantuan pada manusia yang meminta sepenuh hati?
Jauh hari sebelum para perempuan diatas mengalami dukacita dan kegirangan, tahun 1846, Theron T. Pond menemukan ramuan sihir dari ekstrak witch hazel. Para perempuan -setidaknya dalam jangkauan kekuasaan T.Pond- menemukan juru selamat kecantikan diri yang berfungsi mencegah dan menangkap suami/kekasih meleng ke perempuan yang lebih cantik dan putih. Anda yang perempuan harus putih. Putih itu indah memikat. Putih itu jerat. Demikian pesan yang perlu disampaikan secara massal.
Masa berganti dan perempuan masih mengidap kecemasan laten. Industri kecantikan tumbuh atas mazhab ketakutan kekasih berpaling. Sejak media menyadari keajaiban iklan, segala produk dengan storyboard aneh bin ajaib namun mengesankan dan menjerat, menyesaki televisi, majalah perempuan, baliho pinggir jalan, radio. Pada media tertentu, iklan ini menyaru sebagai artikel ilmiah menyertakan hasil riset dan testimoni.
Feminisme tumbuh, kesadaran perempuan bangkit. Namun industri kosmetik pemutih tak kalah licin. Menyadari konsep putih dapat terasa ganjil, diperkenalkan istilah penuh maaf: kecerahan. Bukan putih tujuannya, tapi kecerahan yang sehat dan wajar. Anda tetap memerlukan perangkat ajaib kosmetik yang diramu khusus. Mungkin mengandung vitamin C dan B3, ektrak Licorice, ekstrak Bengkoang, atau CLA. Raksasa Unilever, L'Oreal, P&G, Beiersdorf, selalu berbaik hati menyelamatkan nasib anda. Industri pun mengakomodasi konsep inner beauty, mencangkok kesadaran lebih sublim akan kecantikan namun sekadar sebagai pelengkap.
Tengok iklan di tivi dan rasakan keanehannya. Tull Jye gencar mengiklankan diri dengan gaya jadul (dan dengan citra kurmod alias kurang modal) menggunakan model etnis Tionghoa yang jelas-jelas berkulit putih mulus. Apa pasal pula perempuan model itu menyiksa tubuh dengan krim pemutih? Seputih bagaimana lagi yang diharapkan? Mengapa bukan model berkulit gelap misalnya dari Papua atau Maluku yang simsalabim diputihkan Tull Jye?

Industri pemutih pun mereduksi relasi lelaki-perempuan sebatas fisik dengan obyek perempuan yang melulu ketimpa kesialan dan usaha kerja keras. Sebagaimana jelang pernikahan perempuan sibuk melulur tubuh, usaha ini berlanjut berupa perjuangan abadi memelihara kulit dan mencegah ketuaan. Tak aneh jika tokoh Medelaine Ashton vs Helen Sharp dalam Death Becomes Her (1992) berbunuh-bunuhan berebut ramuan kemudaan dan kecantikan abadi.
Iklan Ponds Flawless White yang akhir-akhir ini memikat penonton tivi di Indonesia memuat segala konsep ganjil industri kecantikan seksi pemutihan. Iklan ini serupa telenovela ringkas. Penonton menunggu kelanjutan drama kehidupan perempuan malang berkulit tidak putih. Akankah Sang Kekasih sadar dan kembali ke haribaannya? Penonton sudah tahu akhir cerita: Ponds Flawless White dengan segala kesaktiannya mendepak si perebut, mengembalikan Si Lelaki ke haribaan perempuannya yang sukses diputihkan dalam tujuh hari.
Sepertinya produk ini laku keras. Meski saya tidak memiliki data, kesan laku keras ini saya tangkap ketika diluncurkan dan habis sekejap. Seorang kawan saya yang sebenarnya berkulit putih cerah mengkonsumsinya antusias. Harganya pun terjangkau. Ponds Flawless White adalah ramuan dukun Lisle Von Rhoman dalam film DbH diatas.
Jadi, jika anda ingin memerangkap lelaki anda ke altar pernikahan atau ingin lelaki anda senantiasa mencintai anda, usahakan tetap putih. Atau berkulit cerah sehat. Pilihlah produk terpercaya menurut dan sesuai kantong anda. Jangan lupa, inner beauty! Simsalabim. Abrakadabra. Alakazam.
Diposkan oleh
meiditami
di
9:51:00 AM
2
komentar
Link ke posting ini
Label: perempuan
Langgan:
Entri (Atom)


