Minggu, 23 Februari 2014

KESET KAKI MOAMMAR

Anthony Bourdain jalan-jalan ke Libya. Beberapa sudut yang disinggahinya nampak menyisakan reruntuhan perang. Setelah Moammar Khaddafi tewas pada tanggal 20 Oktober 2011, berangsur-angsur negara itu berbenah.  Tripoli, ibukota negara ditampakkan dalam masa merayakan kemerdekaan. Tidak dalam arti sebuah pesta, melainkan perasaan kolektif.  Sekelompok orang sarapan roti a la Libya -entah disebut apa- di sebuah warung sembari berdiri dan bercakap-cakap.  Lalu Bourdain berdiri rada termangu diantara reruntuhan istana Khaddafi.


Ada museum di Tripoli (atau Benghazi ? Saya tak menontonnya dari awal dan setengah terkantuk di sofa) berisi segala kenangan perang yang -pasti- menyakitkan. Ada baju militer dan sepatu Khaddafi ketika disergap di gorong-gorong yang tak jauh dari tanah kelahirannya, Sirte. Foto-foto korban perang mengisi tiga bagian dinding, berlapis kaca, bendera Libya menjulur di atasnya. Di sudut lain ada televisi kuno -saya menyebutnya kuno karena bukan LED :)


Apa yang nampak di layar TV itu sungguh mencekat saya. Semacam kekeluan mendera, perbauran rasa iba + maklum + sesal. Yang pasti bukan rasa girang. Itu cuplikan adegan ketika Moammar Khaddafi tertangkap dan digelandang gerombolan tentara NTC. Ia berdarah-darah setelah tertembak. Bersembunyi di gorong-gorong lalu diarak keluar. Konon ia serupa idiot yang memohon untuk tak ditembak sembari mengingatkan 'Islam tak mengajarkan kalian berlaku seperti ini'.   Sedianya ia direncanakan digelandang hidup-hidup dan menempuh peradilan lazimnya. Namun peluru yang entah darimana asalnya, menamatkannya.


Saya mengagumi sisi pelawan dari dikatotor ini. Keterusterangannya dalam membenci AS dan sekutunya, buat saya mengagumkam. Ia serupa Saddam Hussein, Hugo Chavez atau Ahmadinejad yang diaggap bebal tak bisa diatur oleh dominasi kekuatan AS dalam panggung politik internasional. Bagi sebagian Dunia Islam yang dilanda perasaan tertekan dan tak berdaya oleh kekuatan asing, ia figur yang mewakili hasrat Daud melawan Goliath.  Sayangnya kebanyakan pemimpin kuat serupa Moammar Khaddafi juga menggunakan kekuatannya untuk menindas rakyatnya sendiri.   Penguasa sewenang-wenang selalu menggali lubang kubur sendiri.


Dan, di pintu masuk museum perang saudara itu, ada keset kaki bergambar Moammar Khaddafi yang diinjak setiap pengunjung. Pemandu tur  bahkan menginjaknya dengan bernafsu, hendak menunjukkan ia sangat membenci penguasa Libya selama hampir 42 tahun itu.  Ah, nasibmu,  Bung !

Kamis, 03 Oktober 2013

INFOTEMEN

Meski merupakan tontonan yang merusak harkat, sejujurnya saya selalu menongkronginya.  Konon infotemen adalah salah satu konten TV yang sangat tidak bermutu, bukan konsumsi orang-orang intelek, favorit pengangguran dan ibu-ibu RT putus-asa.


Biasanya setiap pagi sembari minum kopi dan baca koran, saya menyalakan TV.  Ritual itu terjadi bersamaan jam tayang infotemen.  Berita Nasional berlalu, apalagi ceramah-ceramah agama. Saya juga tidak tahu mengapa pagi (dan senja) di Indonesia harus dimulai dengan membahas artis atau selebriti itu..


Saya samasekali tidak merasa bersalah menonton infotemen, Itu merupakan sekelumit dari kegiatan saya mencerna kehidupan.  Saya membaca koran dan buku-buku.  Saya bukan cuma tahu Keluarga Anisa Bahar, tapi juga Obama Care dan gagasan-gagasan Arkoun  :)


Saya bisa begitu fasih dan getol mengeritik infotemen karena saya menontonnya.  Kau tak mungkin bisa menilai  novel yang bagus tanpa pernah membaca novel yang jelek.  Begitu juga dengan segala konten di TV. Kau akan mengerti nilai edukasi dan kualitas tontonan dengan membandingkan beberapa.  Namun memang, kau tak perlu duduk menonton infotemen untuk sadar betapa runyam acara itu :)


Menyimak sembari gregetan kalau tidak kesal, begitulah saya. Apalagi akhir-akhir ini. Rasanya saya ingin menyatroni rumah-rumah produksi infotemen, memberi saran untuk berhenti merayakan  dan tak lagi memberi panggung gratis bagi orang-orang aneh.


Contoh orang-orang aneh  adalah Vicky Prasetyo serta mahluk-mahluk yang terkait dengannya yang kini gentayangan kejar-tayang di infotemen.  Masa Lucu VP telah usai.  Konspirasi kudeta labilisasi ekonomi tak lagi menghibur. Ia pun telah dijerembabkan ke tempat yang layak kini -hotel prodeo. Nah, mengapa pula Emma Fauziah dan kawananya serta yang mendaku korban Vicky tak henti-hentinya dibahas ?


Plisss deh.  Sebegitu penting kah orang-orang itu dibahas dari hari ke hari, pagi hingga senja, berikut alur cerita yang aneh, kalau tidak sinting ? Hukum dalam dunia infotemen terasa begitu norak dan main-main.  


Menjadi kesadaran bersama bahwa salah satu peran infoteman adalah mengompori orang-orang bertikai yang menjadi obyek pergunjingan.  Saya salut dengan artis-artis (baik ternama maupun sekuter alias selebriti kurang terkenal) yang tidak terpancing oleh infotemen. Itu hanya sedikit.  


Kisruh terkini tentu soal makam Uje. Berulang-ulang menayangkan masalah keluarga Uje, mewawancari orang-orang yang dianggap uztad namun malah makin bikin kacau. Saya  menyimpulkan infotemen memang sadar kelasnya.  Alih-alih berusaha seimbang dan menghadirkan narasumber yang kompeten, malah menghadirkan -maaf- orang-orang yang kapasitasnya dipertanyakan. Infotemen sadar diri merupakan tontonan picisan maka tak perlu bersusah-payah mencari narasumber kualifaid :)
 
 
Infotemen akhirnya menjadi panggung gratis bagi pencari ketenaran instan.  Bayangkan rekayasa skandal yang diberitakan secara intens hari demi hari, jam demi jam.  Modus menjadi artis yang kemampuannya minim adalah dengan terlebih dulu menciptakan keributan yang lalu menjadi berita infotemen. Iklan gratis. Berikutnya, karya baru menyusul.
 
 
Saran saya bagi infotemen adalah mengurangi jam tayang, mengurangi frekuensi pemberitaan yang tidak perlu, tidak bertindak sebagai kompor atas konflik dan secara umum meningkatkan mutu. Saya kira meski hanya merupakan tontonan remeh-temeh, infotemen bisa mengubah pakem-nya yang biasa.

Selasa, 02 Juli 2013

CATATAN BERANTAKAN TENTANG PUASA

Tinggal iklan pembalut yang tak disangkutkan dengan puasa, gurau anakku, menyambungi komentar kami atas iklan-iklan jelang puasa.


Memerhatikan TV bakalan tiba pada kesan bahwa bulan Ramadhan adalah perayaan konsumsi dan hiburan.  Seolah karena kau begitu menderita berpuasa maka perlu dikucuri lawakan sahur atau lawakan berbuka, sinetron berlabel 'religi', lagu-lagu berlabel ruhani dan diedukasi untuk menyadari peran sirup, margarin, obat maag hingga suplemen penambah kebugaran.


Menurut saya, untuk menjalani puasa yang hening (rasa tapa), salah satu kiat adalah hentikan menongkrongi TV -terkhusus TV Swasta di republik ini. Perkecualian kajian tafsir oleh Quraish Shihab di TV Metro dan beberapa dokumenter. 


Berpuasa itu mengheningkan cipta, detoksifikasi fisik-ruhani, perjalanan pribadi (dalam keriuhan masa kini 'merayakannya') menuju yang kita percaya sebagai Sang Pencipta. 


Waktu saya SMP, pertama kali saya membaca tulisan Al Ghazali yang mendedah tingkatan-tingkatan orang yang berpuasa ; orang awam, orang khusus, orang khusus dari yang khusus. Pada usia uzur ini, kok ya saya merasa tak pernah ada peningkatan, sungguh, bukan basa-basi :)  Cita-cita untuk 'mendaki' selalu ada namun berhenti pada hasrat belaka. Berat, dan susah.


Setelahnya, seharusnya puasa itu dilakukan seumur hidup. Bukan yang hanya berarti menahan makan-minum namun dalam makna usaha batin -pencarian tiada henti, perjuangan mencapai Insan Kamil -suatu konsep yang kedengaran 'ngawang-ngawang' namun sebetulnya memuat sesuatu yang aktif dengan perhentian tidak jelas (siapa yang tahu dirinya Insan Kamil ?).


Pada masa kanak-kanak dan remaja, saya agak romantis menghayati Ramadhan. Secara harfiah saya mencoba membaca alam semesta : pepohonan merunduk, permukaan air yang sangat tenang, semburat surya yang lembut, segala keganjilan penanda malam seribu bulan. Berharap isyarat ilahiyah bahwa saya secara ruhani mengalami kenaikan kelas :)


Sekarang saya 'kurang romantis' dalam beragama, lebih rasional (oh, ada yang bilang saya liberal yang sepertinya bermakna  kami berbeda pandangan) tapi justru merasa lebih spiritual (catat : merasa ). Saya tidak perduli kata orang lain soal cara saya memahami agama saya. Lebih penting saya menjalani pencarian seorang diri -Jalan Sunyi, kata orang-orang.


Tantangan terberat saya pada Ramadhan ini bukan TV-TV di republik ini yang akan riuh-rendah menjejali khalayak dengan program -yang kebanyakan- ajib itu. Mertua saya yang dikenal bawel akan  datang, berpuasa, berlebaran dan berujung rencana umroh bersama saya. Beliau benar-benar akan jadi uji kekuatan saya (hahaha).


Sore tadi saya (untuk ke sekian kali) dan anak-anak menonton Le Grand Voyage. Indreswaru senyum-senyum -seolah membayangkan Tokoh Ayah adalah Mbah dan saya dalah Reda...:)))


Itu soal haji. Namun menempuh puasa Ramadhan sejatinya adalah Le Grand Voyage.

Sabtu, 26 November 2011

PERS YANG MENDAMBA

Mendamba apa ? Mendamba semacam figur William-Kate yang pernikahannya ditayangkan televisi dalam rasa negeri dongeng. Tentu saja dalam skala kecil-kecilan. Kenyataanya yang punya hajat tidak benar-benar punya kerajaan dan bukan benar-benar raja yang diterakan secara legal.  Kerajaan dan raja imajiner namun tentu saja benar-benar berkuasa :)



Tapi saya pengen rumpi soal media yang bersemangat menayangkan hajatan ini. Soal raja imajiner itu -yah, itu uangnya, pestanya,  tetamunya, haknya.  Orang lain jangan sirik. Macam saya ini :)


Dua televisi (satu grup) memperoleh hak menayangkan secara langsung. Media Centre didirikan.  Layar-layar raksasa ditancapkan agar rakyat jelata ikut menyaksikan. Narasi-narasi di televisi mengingatkan saya pemilihan putri-putrian dan seperempat suasana pernikahan a ala kerajaan Inggris. Perlu dilakukan wawancara dengan kerabat mempelai, testimoni-testimoni.  


Salah satu televisi yang tak kebagian jatah tayang langsung namun -seperti semua stasiun- ikut merayakan,  memberi ilustrasi musik aroma kerajaan Inggris (ah saya tak tahu apa namanya) : mengingatkan dataran-dataran tinggi Skotlandia. 



Belum bahasa The Royal Wedding yang digunakan dengan gencar oleh beberapa tabloid cetak dan televisi.  Saya sampai merasa salah memaknai kata royal secara leksikal. Ketika pembaca berita mengatakan mempelai puteri menggunakan paes agung, dirasakan perlu ditambahkan penjelasan karena Ibu mempelai lelaki masih keturunan Hemengkubuwono IV :)



Mungkin karena raja beneran dari Jogjakarta  bulan lalu juga mengadakan hajatan serupa, beberapa media pun merasa perlu membanding-bandingkan : Yang mana paling megah ? Yang mana paling menarik ? Yang mana paling disambut antusias ?



Infotainment pastinya ikut merayakan. Wong, seorang Solmet dan Anang dengan remeh-temeh hidupnya dirasakan perlu dipertontonkan ke umat manusia, apalagi The Royal Wedding, bukan ? Solmet, Anang atau Upil Jamil segera tergusur dari kerajaan infotainment, digantikan mempelai menara gading yang enak ditonton, berkilau dan menghibur.


Atas semuanya, yang saya tangkap adalah hasrat mendamba beberapa media akan cerita putera-putri awang-awang tampan-jelita, megah.  Sekali-sekali dong republik ini memamah-biak tontonan semacam ini setelah saban hari diguyur berita korupsi, kecelakaan pesawat dan Solmet, bukan ?


Pers republik itu kepengen dong merayakan opera semacam punya Kate-William : sajian kemegahan, kebahagiaan, cinta, keberuntungan, kebesaran. Meski negara ini berwujud republik, aslinya ia berupa kerajaan yang terdiri dari dinasti-dinasti. Jadi masuk akal pers ini merayakannya dengan langgam aristokrat.



Dan sebagai rakyat, kita seharusnya berbangga memiliki mempelai yang tak kalah dengan mempelai dari kerajaan Inggris Raya :).
 PEMBESAR YANG SEDERHANA


Barangkali hendak menyindir pernikahan barusan anak pembesar republik ini, beberapa media mengisahkan kesederhanaan pernikahan putera presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad. Terlepas dari komentar bahwa sajian kesederhanaan dari Iran tersebut hoax atau pencitraan belaka, intinya adalah pesan tentang kesederhanaan.


Hari ini Kompas memuat karikatur dengan semangat mirip. Tokoh Om Pasikom berkoar-koar : Jangan sirik ! Apa salahnya jadi orang kaya, bermewah-mewah, yang penting niatnya untuk rakyat ! 
 
 
Media yang sama tanggal 19 November 2011 berkisah alasan seorang anggota legislatif memilih Toyota Alphard sebagai tongkrongan : Jika naik Toyota Alphard, kami dapat rapat di dalam mobil karena di dalam mobil itu ada meja. Kalau naik mobil X (menyebut merk lain) yang jalan 80 km/jam saja sudah goyang, akan banyak anggota DPR yang meninggal karena kecelakaan.


Lebay, manja dan sialan. Tiga kata itu segera terbatin. Pastinya itu juga berembel demi rakyat.  Rapat dalam mobil seolah sesuatu tindakan genting dan segera akan dilaksanakan. Seolah reaksi heroik.  Jangan lupa syahwat akan gedung baru dengan alasan gedung lama semiring menara Pisa (yang kemudian dibatalkan). 
 
 
Sea Games ke 26 di Palembang  menampilkan citra gemerlap negara. Setidaknya ketika anda menonton pesta pembukaan dan penutupan, mirip menonton sinetron Indonesia keluaran rumah produksi tertentu : melulu perihal keluarga kaya raya . Jika penonton bukan orang Indonesia dan tidak hidup di republik ini, bakal mengira negara ini kebanyakan berisi orang-orang kaya.


Para pejabat publik membawa citra kaya raya itu kemana-mana. Ketika melakukan hobi studi banding, butik-butik barang branded adalah tujuan wajib, mencolok, dalam selaput artifisial semacam studi orang miskin, studi baju pramuka, studi jaminan sosial dan sebangsanya -bak pelajar tekun.


Hingga akhir hayat, Mohammad Hatta tak sempat membeli sepatu Bally impiannya. Beliau hanya sempat menggunting potongan iklan sepatu tersebut dan menyimpannya hingga akhir hayat.  Mohammad Natsir hanya memiliki mobil pribadi merk Desoto. Mobil itu kusam. Ketika ditawari mobil mewah buatan AS, beliau menolaknya. 


Pejabat publik di Malaysia menggunakan mobil produksi dalam negeri, Proton,  bernilai Rp.350 juta.  Sementara di India, para petinggi menggunakan Tata Ambassador berhaga Rp. 100 juta.  Pencitraan kesederhanaan ? Yang jelas, dilakukan demi tidak melukai rakyat. 
 
 
Setidaknya, jika  para pejabat itu benar-benar kaya dan hendak melampiaskan hasrat hedonistiknya, tidak dilakukan secara demonstratif.  Misalkan anda seorang makmur yang mampu belanja dompet seharga dua juta rupiah. Tegakah anda membeli barang  dan merayakannya di depan kawan anda yang untuk makan saja susah ?


Jika anda tega, kelakuan anda mirip kelakuan para pembesar republik ini. Anda tinggal berkilah : Ini kan uang saya. Apa salahnya jadi orang kaya ?  Jika anda wakil rakyat, bisa ditambahkan kalimat yang penting niatnya untuk rakyat :)


Jadi sebetulnya apa yang tersisa dari pertunjukan pesta para pembesar dan kelakuan kebanyakan wakil rakyat ? Mental OKB dan hati yang tidak sensitif. Kerinduan figur pejabat sederhana semacam Hatta dan Natsir seolah mimpi di siang bolong.   Namun pasti tak lekang :)

Rabu, 10 November 2010

SUPEROBAMA DATANG, HEINZ MINGGIR DIKIT !

Penguasa Jagat Raya akhirnya tiba di negeri ini setelah dua kali menunda kunjungan.  Ia menjejak  kembali kampung halaman -demikian ia melempar frasa berbunga-bunga. Ia melihat Jakarta begitu berubah. Tak serupa ketika ia kanak-kanak.  Ia mengenang dan menyebut bakso, nasi goreng dan sate.  Nostalgianya bikin pendengarnya merasa dihargai, sedikit gede rasa. Tak sia-sia menyiapkan pasukan keamanan sedemikian rupa. Orang besar memang butuh ongkos dan kerepotan nan besar.


Ada perasaan bangga bahwa Obama pernah sejenak hidup di Indonesia.  Kebanggaan ini nyata sekali terbaca melalui media massa. Pada rencana kedatangannya yang pertama, semacam euforia menyebar.  Apakah Anda tak puyeng melulu diterpa sekolah Obama, bangku dan meja Obama, guru-guru Obama, pengasuh Obama, kawan-kawan Obama, rumah Obama, makanan favorit Obama dan sebangsanya, ketika itu ?

Selasa, 19 Oktober 2010

lindy dan azaria chamberlain

LINDY CHAMBERLAIN DAN DRAMA YANG DIINGINKAN

Kisah Lindy Chamberlain-Creighton yang terekam dalam biopic produksi  tahun 1988, A Cry In The Dark,  memerikan soal fakta obyektif dan syahwat publik akan drama.  Publik berupa kerumunan penonton televisi dan pemamah media komunikasi lainnya, aparat hukum dan kepolisian, para profesional, penjudi di bar, praktisi pariwisata, karyawan di kantor-kantor dan aktivis perempuan lebih memilih apa yang hendak mereka percayai ketimbang kemungkinan Lindy Chamberlain tak bersalah.


Pada tanggal 16 Agustus 1980 keluarga Michael Chamberlain tiba di Ayers Rock, bagian Selatan kawasan Northern Territory, Australia Tengah.  Ayers Rock atau dikenal juga dengan sebutan Uluru adalah formasi batu karang nan indah yang  ditemukan oleh William Gosse pada tahun 1873.  Nama Ayers Rock merujuk pada Sir Henry Ayers, Chief Secretary Australia Selatan saat itu.

Rabu, 07 Juli 2010

BADUT BERAGAMA

Adakalanya manusia serupa serakan badut di bumi ini.  Mungkin diri sendiri salah satu diantaranya.  Badut Beragama.  Begitu banyak manusia merasa diri beragama. Begitu tuntas menjalankan serentetan ritual sembari menghitung-hitung keuntungan yang bakal diperoleh dalam apa yang disebut pahala.  Dari sisi ini aku memahami kesinisan orang yang mengatakan agama adalah candu.  Agama digunakan untuk menjustifikasi kelakukan memuakkan manusia.  Rasanya samar-samar bahkan tak kerap tak terasakan.  Rumah-rumah ibadah,  peci, salib, kitab suci, sorban, puasa, shalat, dan segala macam penanda agama --sebatas itulah agama diterjemahkan.


Seseorang menakjubkanku dengan pencitraannya yang begitu religius.  Ia menulis seperti melaporkan kepada khayalak segala ibadahnya : tahajjud, shalat dhuha, puasa,  bersedekah, bercinta dengan pasangan .  Tiap ritual  selalu disertai hitungan ala pedagang  " semoga mobil Jaguar itu bisa menjadi milik kami"  atau  " kami kepengen betul tanah itu , ayo giatkan shalat dhuha ! "  atau  "  duh kepengennya  beli berlian dan tas merek Anu, harus rajin tahajjud dan puasa nih ".

Senin, 31 Mei 2010

SZOMORU VASARNAP

PENGANTAR MINUM RACUN
Pada malam kurang kerjaan,  aku tersesat pada kisah lagu Hungaria yang disebut mendorong kasus-kasus bunuh diri sehingga dilarang BBC  untuk diperdengarkan.  Pada zaman Adolf Hitler, bahkan pun dilarang di negara asalnya.  Padahal Szomoru Vasarnap sekadar komposisi melankolis karya Reszo Serres dengan lirik ditulis penyair Lazlo Javor.  Coba dengar versi asli lagu ini dan ini.   Atau coba dengar versi lebih modern yang dibawakan Sarah McLahlan dan Sarah Brightman.  Apakah setelah mendengarkannya Anda memiliki perasaaan untuk mengakhiri hidup?  Hehehe.   Aku merasa lagu itu memang menyayat, memberi kesan kesepian, kosong, sedikit horor, namun indah.  Masuk akal komposisi ini terdapat dalam film The Schindler List dan The Funeral.  Versi piano-nya bahkan indah sekali.


"..espresso single..dari biji kopi luwak premium.., monggo sebelumnya....."


Rabu, 21 April 2010

If you saw a dog going to be crushed under a car, wouldn't you help him? (Oskar Schindler)
 
 "I don't know what his motives were, even though I knew him very well. I asked him and I never got a clear answer and the film doesn't make it clear, either. But I don't give a damn. What's important is that he saved our lives." (Ludwik Feigenbaum)

"Whoever saves one life saves the world entire."  (Talmud)



pabrik email dan amunisi OS




OSKAR  SCHINDLER
Altruisme Sang Juragan


Dalam masa Holocaust, Perang Dunia II (1939-1945), ada satu manusia yang dianggap sungguh berjasa menyelamatkan nyawa sekitar 1200 Yahudi.  Dialah Oskar Schindler yang riwayat hidupnya dibukukan oleh Thomas Keneally dengan judul Schidler's Ark.  Steven Spielberg kemudian mengangkatnya ke layar lebar dalam rasa dokumenter  tahun liris 1993 yang -serupa kisah hidup Oskar Schindler sendiri- memicu perdebatan bukan hanya otensitas pembuat daftar, melainkan bahkan soal Holocaust itu sendiri.



Senin, 29 Maret 2010

SALEH, KARMA, OMAR KHAYYAM dkk

Meski tampan wajahku dan indah warna kulitku
Pipi bagai bunga tulip, bentuk tubuh pohon saru
Namun tak jelas mengapa Pelukis Baka meriasku demikian
Untuk tampil di bedeng pertunjukan dunia yang berdebu
(Omar Khayyam)


Barangkali kebanyakan hasrat beragama berpijak pada ketakutan akan neraka menyala-nyala.  Sebentuk lubang luas -entah telah selesai dibangun, masih dalam rancangan arsitektural atau dibangun segera setelah sangkakala ditiup-  yang sungguh mencekam. 


Waktu aku kanak-kanak, ada komik tipis berjudul Saleh dan Karma.  Diperikan, sebagaimana namanya, Saleh lempang  dari bocah hingga tua.  Ketika ia sakaratul maut, ruhnya lepas begitu ringan dan lembut (kira-kira jika adegan ini berupa Sinetron Religi Indonesia, akan ada gema dari angkasa : wahai jiwa yang tenang, kembali lah kepada tuhan-mu dengan hati yang puas dan memperoleh keridhaan  ---QS : Al Fajr  27-28) .  Pada Hari Akhir Saleh  melampaui Jembatan Shiratal Mustaqim yang setipis sehelai rambut dibelah tujuh. Di firdaus, ia hidup sentosa dengan sungai-sungai mengalir, dilingkupi pohon-pohon buah, bertelekan bantal-bantal  (aku tidak ingat apakah ada gambar bidadari-bidadari).

Minggu, 18 Januari 2009

OBAMA, JURU SELAMAT

Euforia atasnya tentu saja bukan semata bahwa ia menggebrak sejarah, terkhusus sejarah kepresidenan AS, negara raksasa yang entah sampai kapan meraksasa itu. Lelaki berkulit gelap dengan nama diri yang tidak Amerika : Barack Husein Obama. Manusia kulit hitam pertama yang manjadi presiden AS dengan nama berseparuh dengan almarhum presiden Irak yang mati digantung.


Mengapa ia sebegitu menyedot perhatian sehingga hampir semua negara perlu mengeksposnya habis-habisan dan menyanjungnya setinggi langit? Pelantikannya disiarkan berbagai televisi baik langsung maupun tidak. Demikian penting seorang presiden sebuah negara bagi hajat hidup orang banyak?

Minggu, 10 Agustus 2008

TOLERANSI TIDAK CUKUP

Toleransi sesungguhnya maya, mencurigakan, ambigu dan tentu saja tidak berguna sebagai sebuah solusi. Demikian kawan saya di Facebook, Bonny Rambatan, mengutip kegusaran Slavoj Sisek, yang lalu berkembang menjadi diskusi yang cukup menarik. Kepalsuan toleransi, seperti manusia bermuka dua yang memelihara jarak demi keamanan namun tak pernah bisa mencintai dan memahami secara bulat. Sebentuk sikap yang berarti: oke, mari kita hidup berdampingan, namun jangan berani-berani berharap banyak!


Selasa, 15 Juli 2008

KETIKA ZAM MEROKOK



Ketika Zaskia Adya Mecca -seorang artis berjilbab- ketahuan merokok, reaksi dominan netters pada sebuah forum diskusi adalah mencelanya sebagai munafik. Tidak pantas perempuan berjilbab merokok karena merokok sama dengan tidak bermoral. Dan pengguna jilbab pastilah -minimal diharapkan- bermoral. Oh.


Apakah moral itu? Sejak kapan kegiatan merokok berkaitan dengan moral seseorang? Sejahat apakah seorang manusia yang mengisap lintingan tembakau selain kejahatan terhadap kesehatan tubuhnya sendiri (dan tubuh orang lain yang dipapar asap rokoknya) ? Lalu apakah munafik itu?

Sabtu, 16 Februari 2008

JE T'AIME MOI NON PLUS

Sepotong lagu oldies berbahasa Perancis kontroversial yang dipopulerkan duet Jane Birkin dan Serge Gainbourg pada tahun 1969. Lagu ini mengalami nasib dilarang di Italia, Polandia, Spanyol, Portugal dan Inggris. Vatikan bahkan mengeluarkan sabda pengharaman. Ada apa dengan lagu ini?

Karena orangtua saya pengumpul lagu oldies (sampul kaset atau cd-nya biasanya ditajuk evergreeen, everlasting, memories, great love songs), Je T'aime non Plus menjadi salah satu lagu familiar, menjadi kesukaan, dengan kebutaan maknanya. Bagi saya, lagu itu enak, unik, sedikit ganjil karena seperti dialog dua pengidap asma.