Sabtu, 26 November 2011

PERS YANG MENDAMBA

Mendamba apa ? Mendamba semacam figur William-Kate yang pernikahannya ditayangkan televisi dalam rasa negeri dongeng. Tentu saja dalam skala kecil-kecilan. Kenyataanya yang punya hajat tidak benar-benar punya kerajaan dan bukan benar-benar raja yang diterakan secara legal.  Kerajaan dan raja imajiner namun tentu saja benar-benar berkuasa :)



Tapi saya pengen rumpi soal media yang bersemangat menayangkan hajatan ini. Soal raja imajiner itu -yah, itu uangnya, pestanya,  tetamunya, haknya.  Orang lain jangan sirik. Macam saya ini :)


Dua televisi (satu grup) memperoleh hak menayangkan secara langsung. Media Centre didirikan.  Layar-layar raksasa ditancapkan agar rakyat jelata ikut menyaksikan. Narasi-narasi di televisi mengingatkan saya pemilihan putri-putrian dan seperempat suasana pernikahan a ala kerajaan Inggris. Perlu dilakukan wawancara dengan kerabat mempelai, testimoni-testimoni.  


Salah satu televisi yang tak kebagian jatah tayang langsung namun -seperti semua stasiun- ikut merayakan,  memberi ilustrasi musik aroma kerajaan Inggris (ah saya tak tahu apa namanya) : mengingatkan dataran-dataran tinggi Skotlandia. 



Belum bahasa The Royal Wedding yang digunakan dengan gencar oleh beberapa tabloid cetak dan televisi.  Saya sampai merasa salah memaknai kata royal secara leksikal. Ketika pembaca berita mengatakan mempelai puteri menggunakan paes agung, dirasakan perlu ditambahkan penjelasan karena Ibu mempelai lelaki masih keturunan Hemengkubuwono IV :)



Mungkin karena raja beneran dari Jogjakarta  bulan lalu juga mengadakan hajatan serupa, beberapa media pun merasa perlu membanding-bandingkan : Yang mana paling megah ? Yang mana paling menarik ? Yang mana paling disambut antusias ?



Infotainment pastinya ikut merayakan. Wong, seorang Solmet dan Anang dengan remeh-temeh hidupnya dirasakan perlu dipertontonkan ke umat manusia, apalagi The Royal Wedding, bukan ? Solmet, Anang atau Upil Jamil segera tergusur dari kerajaan infotainment, digantikan mempelai menara gading yang enak ditonton, berkilau dan menghibur.


Atas semuanya, yang saya tangkap adalah hasrat mendamba beberapa media akan cerita putera-putri awang-awang tampan-jelita, megah.  Sekali-sekali dong republik ini memamah-biak tontonan semacam ini setelah saban hari diguyur berita korupsi, kecelakaan pesawat dan Solmet, bukan ?


Pers republik itu kepengen dong merayakan opera semacam punya Kate-William : sajian kemegahan, kebahagiaan, cinta, keberuntungan, kebesaran. Meski negara ini berwujud republik, aslinya ia berupa kerajaan yang terdiri dari dinasti-dinasti. Jadi masuk akal pers ini merayakannya dengan langgam aristokrat.



Dan sebagai rakyat, kita seharusnya berbangga memiliki mempelai yang tak kalah dengan mempelai dari kerajaan Inggris Raya :).
 PEMBESAR YANG SEDERHANA


Barangkali hendak menyindir pernikahan barusan anak pembesar republik ini, beberapa media mengisahkan kesederhanaan pernikahan putera presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad. Terlepas dari komentar bahwa sajian kesederhanaan dari Iran tersebut hoax atau pencitraan belaka, intinya adalah pesan tentang kesederhanaan.


Hari ini Kompas memuat karikatur dengan semangat mirip. Tokoh Om Pasikom berkoar-koar : Jangan sirik ! Apa salahnya jadi orang kaya, bermewah-mewah, yang penting niatnya untuk rakyat ! 
 
 
Media yang sama tanggal 19 November 2011 berkisah alasan seorang anggota legislatif memilih Toyota Alphard sebagai tongkrongan : Jika naik Toyota Alphard, kami dapat rapat di dalam mobil karena di dalam mobil itu ada meja. Kalau naik mobil X (menyebut merk lain) yang jalan 80 km/jam saja sudah goyang, akan banyak anggota DPR yang meninggal karena kecelakaan.


Lebay, manja dan sialan. Tiga kata itu segera terbatin. Pastinya itu juga berembel demi rakyat.  Rapat dalam mobil seolah sesuatu tindakan genting dan segera akan dilaksanakan. Seolah reaksi heroik.  Jangan lupa syahwat akan gedung baru dengan alasan gedung lama semiring menara Pisa (yang kemudian dibatalkan). 
 
 
Sea Games ke 26 di Palembang  menampilkan citra gemerlap negara. Setidaknya ketika anda menonton pesta pembukaan dan penutupan, mirip menonton sinetron Indonesia keluaran rumah produksi tertentu : melulu perihal keluarga kaya raya . Jika penonton bukan orang Indonesia dan tidak hidup di republik ini, bakal mengira negara ini kebanyakan berisi orang-orang kaya.


Para pejabat publik membawa citra kaya raya itu kemana-mana. Ketika melakukan hobi studi banding, butik-butik barang branded adalah tujuan wajib, mencolok, dalam selaput artifisial semacam studi orang miskin, studi baju pramuka, studi jaminan sosial dan sebangsanya -bak pelajar tekun.


Hingga akhir hayat, Mohammad Hatta tak sempat membeli sepatu Bally impiannya. Beliau hanya sempat menggunting potongan iklan sepatu tersebut dan menyimpannya hingga akhir hayat.  Mohammad Natsir hanya memiliki mobil pribadi merk Desoto. Mobil itu kusam. Ketika ditawari mobil mewah buatan AS, beliau menolaknya. 


Pejabat publik di Malaysia menggunakan mobil produksi dalam negeri, Proton,  bernilai Rp.350 juta.  Sementara di India, para petinggi menggunakan Tata Ambassador berhaga Rp. 100 juta.  Pencitraan kesederhanaan ? Yang jelas, dilakukan demi tidak melukai rakyat. 
 
 
Setidaknya, jika  para pejabat itu benar-benar kaya dan hendak melampiaskan hasrat hedonistiknya, tidak dilakukan secara demonstratif.  Misalkan anda seorang makmur yang mampu belanja dompet seharga dua juta rupiah. Tegakah anda membeli barang  dan merayakannya di depan kawan anda yang untuk makan saja susah ?


Jika anda tega, kelakuan anda mirip kelakuan para pembesar republik ini. Anda tinggal berkilah : Ini kan uang saya. Apa salahnya jadi orang kaya ?  Jika anda wakil rakyat, bisa ditambahkan kalimat yang penting niatnya untuk rakyat :)


Jadi sebetulnya apa yang tersisa dari pertunjukan pesta para pembesar dan kelakuan kebanyakan wakil rakyat ? Mental OKB dan hati yang tidak sensitif. Kerinduan figur pejabat sederhana semacam Hatta dan Natsir seolah mimpi di siang bolong.   Namun pasti tak lekang :)

Rabu, 10 November 2010

SUPEROBAMA DATANG, HEINZ MINGGIR DIKIT !

Penguasa Jagat Raya akhirnya tiba di negeri ini setelah dua kali menunda kunjungan.  Ia menjejak  kembali kampung halaman -demikian ia melempar frasa berbunga-bunga. Ia melihat Jakarta begitu berubah. Tak serupa ketika ia kanak-kanak.  Ia mengenang dan menyebut bakso, nasi goreng dan sate.  Nostalgianya bikin pendengarnya merasa dihargai, sedikit gede rasa. Tak sia-sia menyiapkan pasukan keamanan sedemikian rupa. Orang besar memang butuh ongkos dan kerepotan nan besar.


Ada perasaan bangga bahwa Obama pernah sejenak hidup di Indonesia.  Kebanggaan ini nyata sekali terbaca melalui media massa. Pada rencana kedatangannya yang pertama, semacam euforia menyebar.  Apakah Anda tak puyeng melulu diterpa sekolah Obama, bangku dan meja Obama, guru-guru Obama, pengasuh Obama, kawan-kawan Obama, rumah Obama, makanan favorit Obama dan sebangsanya, ketika itu ?

Selasa, 19 Oktober 2010

lindy dan azaria chamberlain

LINDY CHAMBERLAIN DAN DRAMA YANG DIINGINKAN

Kisah Lindy Chamberlain-Creighton yang terekam dalam biopic produksi  tahun 1988, A Cry In The Dark,  memerikan soal fakta obyektif dan syahwat publik akan drama.  Publik berupa kerumunan penonton televisi dan pemamah media komunikasi lainnya, aparat hukum dan kepolisian, para profesional, penjudi di bar, praktisi pariwisata, karyawan di kantor-kantor dan aktivis perempuan lebih memilih apa yang hendak mereka percayai ketimbang kemungkinan Lindy Chamberlain tak bersalah.


Pada tanggal 16 Agustus 1980 keluarga Michael Chamberlain tiba di Ayers Rock, bagian Selatan kawasan Northern Territory, Australia Tengah.  Ayers Rock atau dikenal juga dengan sebutan Uluru adalah formasi batu karang nan indah yang  ditemukan oleh William Gosse pada tahun 1873.  Nama Ayers Rock merujuk pada Sir Henry Ayers, Chief Secretary Australia Selatan saat itu.

Rabu, 07 Juli 2010

BADUT BERAGAMA

Adakalanya manusia serupa serakan badut di bumi ini.  Mungkin diri sendiri salah satu diantaranya.  Badut Beragama.  Begitu banyak manusia merasa diri beragama. Begitu tuntas menjalankan serentetan ritual sembari menghitung-hitung keuntungan yang bakal diperoleh dalam apa yang disebut pahala.  Dari sisi ini aku memahami kesinisan orang yang mengatakan agama adalah candu.  Agama digunakan untuk menjustifikasi kelakukan memuakkan manusia.  Rasanya samar-samar bahkan tak kerap tak terasakan.  Rumah-rumah ibadah,  peci, salib, kitab suci, sorban, puasa, shalat, dan segala macam penanda agama --sebatas itulah agama diterjemahkan.


Seseorang menakjubkanku dengan pencitraannya yang begitu religius.  Ia menulis seperti melaporkan kepada khayalak segala ibadahnya : tahajjud, shalat dhuha, puasa,  bersedekah, bercinta dengan pasangan .  Tiap ritual  selalu disertai hitungan ala pedagang  " semoga mobil Jaguar itu bisa menjadi milik kami"  atau  " kami kepengen betul tanah itu , ayo giatkan shalat dhuha ! "  atau  "  duh kepengennya  beli berlian dan tas merek Anu, harus rajin tahajjud dan puasa nih ".

Senin, 31 Mei 2010

SZOMORU VASARNAP

PENGANTAR MINUM RACUN
Pada malam kurang kerjaan,  aku tersesat pada kisah lagu Hungaria yang disebut mendorong kasus-kasus bunuh diri sehingga dilarang BBC  untuk diperdengarkan.  Pada zaman Adolf Hitler, bahkan pun dilarang di negara asalnya.  Padahal Szomoru Vasarnap sekadar komposisi melankolis karya Reszo Serres dengan lirik ditulis penyair Lazlo Javor.  Coba dengar versi asli lagu ini dan ini.   Atau coba dengar versi lebih modern yang dibawakan Sarah McLahlan dan Sarah Brightman.  Apakah setelah mendengarkannya Anda memiliki perasaaan untuk mengakhiri hidup?  Hehehe.   Aku merasa lagu itu memang menyayat, memberi kesan kesepian, kosong, sedikit horor, namun indah.  Masuk akal komposisi ini terdapat dalam film The Schindler List dan The Funeral.  Versi piano-nya bahkan indah sekali.


"..espresso single..dari biji kopi luwak premium.., monggo sebelumnya....."


Rabu, 21 April 2010

If you saw a dog going to be crushed under a car, wouldn't you help him? (Oskar Schindler)
 
 "I don't know what his motives were, even though I knew him very well. I asked him and I never got a clear answer and the film doesn't make it clear, either. But I don't give a damn. What's important is that he saved our lives." (Ludwik Feigenbaum)

"Whoever saves one life saves the world entire."  (Talmud)



pabrik email dan amunisi OS




OSKAR  SCHINDLER
Altruisme Sang Juragan


Dalam masa Holocaust, Perang Dunia II (1939-1945), ada satu manusia yang dianggap sungguh berjasa menyelamatkan nyawa sekitar 1200 Yahudi.  Dialah Oskar Schindler yang riwayat hidupnya dibukukan oleh Thomas Keneally dengan judul Schidler's Ark.  Steven Spielberg kemudian mengangkatnya ke layar lebar dalam rasa dokumenter  tahun liris 1993 yang -serupa kisah hidup Oskar Schindler sendiri- memicu perdebatan bukan hanya otensitas pembuat daftar, melainkan bahkan soal Holocaust itu sendiri.



Senin, 29 Maret 2010

SALEH, KARMA, OMAR KHAYYAM dkk

Meski tampan wajahku dan indah warna kulitku
Pipi bagai bunga tulip, bentuk tubuh pohon saru
Namun tak jelas mengapa Pelukis Baka meriasku demikian
Untuk tampil di bedeng pertunjukan dunia yang berdebu
(Omar Khayyam)


Barangkali kebanyakan hasrat beragama berpijak pada ketakutan akan neraka menyala-nyala.  Sebentuk lubang luas -entah telah selesai dibangun, masih dalam rancangan arsitektural atau dibangun segera setelah sangkakala ditiup-  yang sungguh mencekam. 


Waktu aku kanak-kanak, ada komik tipis berjudul Saleh dan Karma.  Diperikan, sebagaimana namanya, Saleh lempang  dari bocah hingga tua.  Ketika ia sakaratul maut, ruhnya lepas begitu ringan dan lembut (kira-kira jika adegan ini berupa Sinetron Religi Indonesia, akan ada gema dari angkasa : wahai jiwa yang tenang, kembali lah kepada tuhan-mu dengan hati yang puas dan memperoleh keridhaan  ---QS : Al Fajr  27-28) .  Pada Hari Akhir Saleh  melampaui Jembatan Shiratal Mustaqim yang setipis sehelai rambut dibelah tujuh. Di firdaus, ia hidup sentosa dengan sungai-sungai mengalir, dilingkupi pohon-pohon buah, bertelekan bantal-bantal  (aku tidak ingat apakah ada gambar bidadari-bidadari).

Minggu, 18 Januari 2009

OBAMA, JURU SELAMAT

Euforia atasnya tentu saja bukan semata bahwa ia menggebrak sejarah, terkhusus sejarah kepresidenan AS, negara raksasa yang entah sampai kapan meraksasa itu. Lelaki berkulit gelap dengan nama diri yang tidak Amerika : Barack Husein Obama. Manusia kulit hitam pertama yang manjadi presiden AS dengan nama berseparuh dengan almarhum presiden Irak yang mati digantung.


Mengapa ia sebegitu menyedot perhatian sehingga hampir semua negara perlu mengeksposnya habis-habisan dan menyanjungnya setinggi langit? Pelantikannya disiarkan berbagai televisi baik langsung maupun tidak. Demikian penting seorang presiden sebuah negara bagi hajat hidup orang banyak?

Minggu, 10 Agustus 2008

TOLERANSI TIDAK CUKUP

Toleransi sesungguhnya maya, mencurigakan, ambigu dan tentu saja tidak berguna sebagai sebuah solusi. Demikian kawan saya di Facebook, Bonny Rambatan, mengutip kegusaran Slavoj Sisek, yang lalu berkembang menjadi diskusi yang cukup menarik. Kepalsuan toleransi, seperti manusia bermuka dua yang memelihara jarak demi keamanan namun tak pernah bisa mencintai dan memahami secara bulat. Sebentuk sikap yang berarti: oke, mari kita hidup berdampingan, namun jangan berani-berani berharap banyak!


Selasa, 15 Juli 2008

KETIKA ZAM MEROKOK



Ketika Zaskia Adya Mecca -seorang artis berjilbab- ketahuan merokok, reaksi dominan netters pada sebuah forum diskusi adalah mencelanya sebagai munafik. Tidak pantas perempuan berjilbab merokok karena merokok sama dengan tidak bermoral. Dan pengguna jilbab pastilah -minimal diharapkan- bermoral. Oh.


Apakah moral itu? Sejak kapan kegiatan merokok berkaitan dengan moral seseorang? Sejahat apakah seorang manusia yang mengisap lintingan tembakau selain kejahatan terhadap kesehatan tubuhnya sendiri (dan tubuh orang lain yang dipapar asap rokoknya) ? Lalu apakah munafik itu?

Sabtu, 16 Februari 2008

JE T'AIME MOI NON PLUS

Sepotong lagu oldies berbahasa Perancis kontroversial yang dipopulerkan duet Jane Birkin dan Serge Gainbourg pada tahun 1969. Lagu ini mengalami nasib dilarang di Italia, Polandia, Spanyol, Portugal dan Inggris. Vatikan bahkan mengeluarkan sabda pengharaman. Ada apa dengan lagu ini?

Karena orangtua saya pengumpul lagu oldies (sampul kaset atau cd-nya biasanya ditajuk evergreeen, everlasting, memories, great love songs), Je T'aime non Plus menjadi salah satu lagu familiar, menjadi kesukaan, dengan kebutaan maknanya. Bagi saya, lagu itu enak, unik, sedikit ganjil karena seperti dialog dua pengidap asma.

Kamis, 07 Februari 2008

SAYANG, AKU MENCINTAIMU KARENA KAU BEGITU PUTIH...!

Seorang perempuan nestapa: pacar kabur, dirinya tertinggal merenungi nasib. Di tempat yang lain, sepasang manusia lelaki-perempuan melulu mesra-sumringah. Cupid, barangkali mengambang di udara, menyungkupi mereka, melesatkan ratusan anak panah. Perempuan sumringah berkulit putih-bersih-mulus tak tercela. Si lelaki tidak begitu penting berwarna apa.

Entah bagaimana muasalnya, perempuan pertama menyimpulkan kulitnya yang tidak putih sebagai biang kesialan. Tidak perlu hipotesis. Kulit putih selalu lebih memikat lelaki, jadi wajar saja kekasih berpaling. Karena hidup memerlukan perjuangan dan kerja keras, perempuan nestapa mencoba memperbaiki nasib. Bukankah Paolo Coelho dan The Secret mengajarkan alam semesta mengirimkan bala bantuan pada manusia yang meminta sepenuh hati?

Minggu, 27 Januari 2008

MATINYA THE SMILING GENERAL



Mantan presiden RI, HM. Soeharto meninggal dunia pukul 13.10 WIB, di RSPP, setelah sekian minggu dirawat tim dokter kepresidenan. Sepanjang perawatan pers menayangkan beritanya nyaris setiap hari, bahkan menyerupai laporan fluktuasi saham. RSPP lalu menjadi panggung segala macam orang dan tingkah yang masuk ke ruang-ruang tonton rakyat Indonesia. Tokoh kontroversial telah berpulang: pahlawan pembangunan sekaligus diktator berhati dingin.


Saya generasi yang hidup pada era Soeharto. Mengagumi sekaligus mencercanya. Soeharto berarti Orde Baru. Orde Baru berarti Golkar yang menang melulu, kubah masjid dan jembatan warna kuning, Harmoko yang minta petunjuk, kelompencapir, Trilogi Pembangunan, Butir-Butir Pancasila, film G30S/PKI, Jawa, transmigrasi, segala sektor ekonomi kepunyaan anak-anak Soeharto, SARA, Repelita/Pelita, Keluarga Berencana.


Kamis, 24 Januari 2008

BALADA PEREMPUAN

Kesadaran kontemporer meletakkan perempuan dan wacana atasnya sebagai sesuatu yang khusus. Perempuan seolah subspesies Homo Sapiens. Perjuangan untuk subspesies ini masuk ke relung-relung kehidupan. Universitas-universitas mendirikan Pusat-Studi, LSM-LSM mengadvokasi perempuan dan mengkhusukan diri dalam urusan perempuan. Perempuan, Lesbi, Gay, menjadi teriakan yang menuntut kesetaraan, pengakuan, sekaligus pembedaan.


Pembedaan? Ya, dalam tuntutan kesetaraan terdapatkesadaranperbedaan. Kaum gay mendeklarasikan temuan bahwa biang keganjilan mereka dapat ditelusuri dalam susunan DNA. Maka patutlah kaum gay diterima sebagai sesuatu yang kodrati dan dihormati. Perempuan disebut diciptakan dengan rasionalitas yang kurang dari lelaki, maka layaklah subspesies ini diberlakukan sesuai bakatnya sebelum melompat menjadi spesies. Pendapat ini diprotes. Semakin diprotes, semakin ada pesan bahwa perempuan itu berbeda. Makanya ada Menteri Pemberdayaan Perempuan karena perempuan serba tidak berdaya.