Minggu, 23 Februari 2014

KESET KAKI MOAMMAR

Anthony Bourdain jalan-jalan ke Libya. Beberapa sudut yang disinggahinya nampak menyisakan reruntuhan perang. Setelah Moammar Khaddafi tewas pada tanggal 20 Oktober 2011, berangsur-angsur negara itu berbenah.  Tripoli, ibukota negara ditampakkan dalam masa merayakan kemerdekaan. Tidak dalam arti sebuah pesta, melainkan perasaan kolektif.  Sekelompok orang sarapan roti a la Libya -entah disebut apa- di sebuah warung sembari berdiri dan bercakap-cakap.  Lalu Bourdain berdiri rada termangu diantara reruntuhan istana Khaddafi.


Ada museum di Tripoli (atau Benghazi ? Saya tak menontonnya dari awal dan setengah terkantuk di sofa) berisi segala kenangan perang yang -pasti- menyakitkan. Ada baju militer dan sepatu Khaddafi ketika disergap di gorong-gorong yang tak jauh dari tanah kelahirannya, Sirte. Foto-foto korban perang mengisi tiga bagian dinding, berlapis kaca, bendera Libya menjulur di atasnya. Di sudut lain ada televisi kuno -saya menyebutnya kuno karena bukan LED :)


Apa yang nampak di layar TV itu sungguh mencekat saya. Semacam kekeluan mendera, perbauran rasa iba + maklum + sesal. Yang pasti bukan rasa girang. Itu cuplikan adegan ketika Moammar Khaddafi tertangkap dan digelandang gerombolan tentara NTC. Ia berdarah-darah setelah tertembak. Bersembunyi di gorong-gorong lalu diarak keluar. Konon ia serupa idiot yang memohon untuk tak ditembak sembari mengingatkan 'Islam tak mengajarkan kalian berlaku seperti ini'.   Sedianya ia direncanakan digelandang hidup-hidup dan menempuh peradilan lazimnya. Namun peluru yang entah darimana asalnya, menamatkannya.


Saya mengagumi sisi pelawan dari dikatotor ini. Keterusterangannya dalam membenci AS dan sekutunya, buat saya mengagumkam. Ia serupa Saddam Hussein, Hugo Chavez atau Ahmadinejad yang diaggap bebal tak bisa diatur oleh dominasi kekuatan AS dalam panggung politik internasional. Bagi sebagian Dunia Islam yang dilanda perasaan tertekan dan tak berdaya oleh kekuatan asing, ia figur yang mewakili hasrat Daud melawan Goliath.  Sayangnya kebanyakan pemimpin kuat serupa Moammar Khaddafi juga menggunakan kekuatannya untuk menindas rakyatnya sendiri.   Penguasa sewenang-wenang selalu menggali lubang kubur sendiri.


Dan, di pintu masuk museum perang saudara itu, ada keset kaki bergambar Moammar Khaddafi yang diinjak setiap pengunjung. Pemandu tur  bahkan menginjaknya dengan bernafsu, hendak menunjukkan ia sangat membenci penguasa Libya selama hampir 42 tahun itu.  Ah, nasibmu,  Bung !

Selasa, 19 Oktober 2010

lindy dan azaria chamberlain

LINDY CHAMBERLAIN DAN DRAMA YANG DIINGINKAN

Kisah Lindy Chamberlain-Creighton yang terekam dalam biopic produksi  tahun 1988, A Cry In The Dark,  memerikan soal fakta obyektif dan syahwat publik akan drama.  Publik berupa kerumunan penonton televisi dan pemamah media komunikasi lainnya, aparat hukum dan kepolisian, para profesional, penjudi di bar, praktisi pariwisata, karyawan di kantor-kantor dan aktivis perempuan lebih memilih apa yang hendak mereka percayai ketimbang kemungkinan Lindy Chamberlain tak bersalah.


Pada tanggal 16 Agustus 1980 keluarga Michael Chamberlain tiba di Ayers Rock, bagian Selatan kawasan Northern Territory, Australia Tengah.  Ayers Rock atau dikenal juga dengan sebutan Uluru adalah formasi batu karang nan indah yang  ditemukan oleh William Gosse pada tahun 1873.  Nama Ayers Rock merujuk pada Sir Henry Ayers, Chief Secretary Australia Selatan saat itu.

Senin, 29 Maret 2010

SALEH, KARMA, OMAR KHAYYAM dkk

Meski tampan wajahku dan indah warna kulitku
Pipi bagai bunga tulip, bentuk tubuh pohon saru
Namun tak jelas mengapa Pelukis Baka meriasku demikian
Untuk tampil di bedeng pertunjukan dunia yang berdebu
(Omar Khayyam)


Barangkali kebanyakan hasrat beragama berpijak pada ketakutan akan neraka menyala-nyala.  Sebentuk lubang luas -entah telah selesai dibangun, masih dalam rancangan arsitektural atau dibangun segera setelah sangkakala ditiup-  yang sungguh mencekam. 


Waktu aku kanak-kanak, ada komik tipis berjudul Saleh dan Karma.  Diperikan, sebagaimana namanya, Saleh lempang  dari bocah hingga tua.  Ketika ia sakaratul maut, ruhnya lepas begitu ringan dan lembut (kira-kira jika adegan ini berupa Sinetron Religi Indonesia, akan ada gema dari angkasa : wahai jiwa yang tenang, kembali lah kepada tuhan-mu dengan hati yang puas dan memperoleh keridhaan  ---QS : Al Fajr  27-28) .  Pada Hari Akhir Saleh  melampaui Jembatan Shiratal Mustaqim yang setipis sehelai rambut dibelah tujuh. Di firdaus, ia hidup sentosa dengan sungai-sungai mengalir, dilingkupi pohon-pohon buah, bertelekan bantal-bantal  (aku tidak ingat apakah ada gambar bidadari-bidadari).