Kesadaran kontemporer meletakkan perempuan dan wacana atasnya sebagai sesuatu yang khusus. Perempuan seolah subspesies Homo Sapiens. Perjuangan untuk subspesies ini masuk ke relung-relung kehidupan. Universitas-universitas mendirikan Pusat-Studi, LSM-LSM mengadvokasi perempuan dan mengkhusukan diri dalam urusan perempuan. Perempuan, Lesbi, Gay, menjadi teriakan yang menuntut kesetaraan, pengakuan, sekaligus pembedaan.Pembedaan? Ya, dalam tuntutan kesetaraan terdapatkesadaranperbedaan. Kaum gay mendeklarasikan temuan bahwa biang keganjilan mereka dapat ditelusuri dalam susunan DNA. Maka patutlah kaum gay diterima sebagai sesuatu yang kodrati dan dihormati. Perempuan disebut diciptakan dengan rasionalitas yang kurang dari lelaki, maka layaklah subspesies ini diberlakukan sesuai bakatnya sebelum melompat menjadi spesies. Pendapat ini diprotes. Semakin diprotes, semakin ada pesan bahwa perempuan itu berbeda. Makanya ada Menteri Pemberdayaan Perempuan karena perempuan serba tidak berdaya.
Ketidakberdayaan atau -mungkin- kekurangan daya kaum perempuan dipercaya lebih disebabkan oleh konstruksi budaya, bukan sesuatu adikodrati. Dunia yang dikuasai lelaki membangun 'iman': kehidupan yang keras sebaiknya ditangani mahluk lelaki rasional,mahluk perempuan sebaiknya mengambil bagian pada ceruk yang lembut. Namun bagaimana menjelaskan ketidakkodrati situasi ini pada kenyataan bahwa sejak zaman purba lelaki berburu perempuan mengurus anak-anak di gua atau paling banter bercocok-tanam? Apakah manusia primitif ini memaksudkan tindakan pembagian kerja sebagai kesadaran akan perbedaan, minimal perbedaan kekuatan fisik ? Siapa mahluk lelaki biang keladi konstruksi budaya bahwa perempuan lebih lemah, lebih emosional, lebih ringkih? Lelaki dari bagian dunia manakah itu?
Konstruksi budaya inilah yang menjadikan perempuan mendapat peran penggoda dan perusak dalam setiap kolapsanya sebuah pernikahan. Janda-janda dinisbat- kan mahluk mengancam meski sesungguhnya status mereka pun kadang-kadang penuh intimidasi dan stereotipikal. Banyak hal dilazimkan untuk lelaki namun tidak untuk perempuan, terlebih pada masyarakat tradisional. Perempuan yang belum menikah pada usia yang dipantaskan masyarakat untuk menikah disebut 'tidak laku' dan perlu juru selamat. Ia akan dicerca sebagai 'dasar perawan tua' jika marah-marah atau bertringkah yang tidak mengenakkan. Sementara lelaki membujang lapuk lebih dipercaya karena 'terlalu sibuk memilih' atau -kalau tidak- dituduh gay.
Ketika artis Mayangsari dianggap merampok Bambang Trihatmojo dari Halimah Agustina, boleh dibilang 89% menyalahkan dan memaki Mayangsari (yang namanya diplesetkan menjadi Monyongserong atau Monyong santet di forum-forum gosip internet). Seolah Si Mayangsari menyodorkan diri pada BT yang pasif dan alim, lalu terjadilah. KIta sering mendengar ungkapan 'perebut suami orang' atau "perebut pacar orang" yang berangkat dari asumsi segala kerusakan dimulakan oleh perempuan dan lelaki hanyalah penerima pasif dari tindakan merebut atau merampok tersebut. Asumsi bahkan melahirkan ujaran: "kucing mah kalau disodori ikan memangnya tidak mau?". Entah siapa kucing siapa tulang dan apakah tulang yang dimaksud di sini tulang manusia bernyawa atau tulang sisa ikan goreng. Lain halnya kalau soal merampok bank, pasti dipercaya pelakunya bukan perempuan (kecuali segelintir perempuan perampok le- genderis tentu saja)
Hillary Rodham menjadi perisai suaminya, Bill Clinton, menghadapi skandal seksnya dengan Monica Lewinsky. Detil rampok-merampok seksual itu digelar di media massa, mulai adegan pembuka hingga soal sperma Bill yang tertinggal di baju Monica. Demikian pula peran Dina Mcgreevey yang harus tampil kuat di hadapan pers setelah suaminya, Jim McGreevey, Gubernur New Jersey AS, 2002-2004, memproklamirkan diri gay dan mengakui bahwa pernika hannya selama ini demi karir politik belaka. Tengok pula penampilan Teh Ninih memainkan peran perisai terhadap suaminya Aa Gym yang menikah lagi. Ia diperlukan sebagai legitimator dan pelempang poligami suami sekaligus katrol pencitraan profetik bagi Aa Gym: Teh Ninih harus ikhlas dan tabah demi firdaus masa depan. Dia yang harus mengurusi hati nya sendiri agar lapang, bukan sebaliknya: Aa Gym yang memerangi hatinya untuk tidak menikah lagi Lelaki diberi privelese untuk poligami, selanjutadalah urusan istri.
Bagaimana perempuan-perempuan diatas mengatasi diri sendiri adalah indikasi kekuatan berlapis-lapis. Lelaki diatas menunggu hasil bejibaku istri-istrinya, simpanan-simpanannya agar citranya tetap baik, benar, dan layak. Maka dalam konteks ini agak kurang pas menyebut perempuan adalah mahluk lemah. Lelaki diatas menunjukkan kelemahan, sang istri lah yang tampil sebagai pemberes segala urusan. Simsalabim.
ilustrasi lukisan minyak Amy Dryer, Trinity Galleries,
"Maintaing Your Presence II"
0 komentar:
Poskan Komentar