15 Juli 2008

KETIKA ZAM MEROKOK



Ketika Zaskia Adya Mecca -seorang artis berjilbab- ketahuan merokok, reaksi dominan netters pada sebuah forum diskusi adalah mencelanya sebagai munafik. Tidak pantas perempuan berjilbab merokok karena merokok sama dengan tidak bermoral. Dan pengguna jilbab pastilah -minimal diharapkan- bermoral. Oh.



Apakah moral itu? Sejak kapan kegiatan merokok berkaitan dengan moral seseorang? Sejahat apakah seorang manusia yang mengisap lintingan tembakau selain kejahatan terhadap kesehatan tubuhnya sendiri (dan tubuh orang lain yang dipapar asap rokoknya) ? Lalu apakah munafik itu?



Terdapat asumsi 'kuno' tentang rokok dan perempuan di Indonesia. Perempuan yang merokok adalah bukan perempuan baik-baik. Liar. Rokok itu dunia lelaki. Zaskia Adya Mecca adalah perempuan dan berjilbab, itulah masalahnya. Jilbab adalah citra kesalehan. Kesalehan adalah penyelesaian, bukan menjadi. Masyarakat mengharapkanmu manusia purna. Ibarat sebuah pendakian, mengikat diri dalam bentuk kesalehan seperti jilbab berarti engkau telah mencapai pucuk Himalaya. Masyarakat tak ingin melihat kekurangan, meski yang dianggap kekurangan itu tak jelas musababnya. Kepatutan yang diinginkan dicampurbaur dengan persoalan moralitas dan hukum agama.



Beberapa tokoh agama Islam yang saya tahu adalah perokok. Segelintir mencercanya. Dengan lain kata, reaksi masyarakat terhadap perilaku merokok tokoh-tokoh tersebut biasa-biasa saja, tak sehebat terhadap seorang ZAM. Jika kemarahan tersebut berakar dari anggapan pelanggaran ZAM atas Hukum Islam, seharusnya reaksi sama diberikan kepada tokoh-tokoh Islam lainnya, kan? Namun tidak terjadi. Zaskia Adya Mecca adalah perempuan dan tokoh-tokoh tersebut lelaki. Padahal lelaki-lelaki itu adalah orang-orang yang dianggap mumpuni dalam bidang Hukum Islam.



Mengapa kita mencela perempuan merokok, atau terkhusus, seorang perempuan berjilbab untuk perilaku yang status hukumnya dalam fiqih Islam pun masih diperdebatkan? Bukankah para fuqaha bersilang-pendapat atasnya? Bukankah ada yang berpendapat merokok itu makruh, mubah atau malah haram? Bukankah merokok tidak sama dengan makan babi sehingga yang melakukannya tidak tergolong pengkhianat agama?



Anehnya, yang meributkan betapa munafiknya ZAM dengan perilaku merokoknya adalah orang-orang terpelajar juga. Saya ingin bilang betapa saya mengira orang-orang terpelajar itu bisa menempatkan sesuatu secara proporsional. Di desa, perempuan melinting dan menghembuskan rokok dengan enaknya dan tak seorangpun yang menganggapnya aneh apalagi sebagai contoh perempuan tak bermoral. Merokok barangkali dianggap serupa mengunyah sirih.



Indonesia dengan masyarakat yang konon religius ini, ekspektasi terhadap tokoh, ikon atau pembawa citra-citra kesalehan begitu tinggi. Tidak beres sedikit saja segera mengundang kecaman. Jika ia tokoh dengan muatan komersial, bisa dipastikan ia segera tak bakal laku lagi. Kasus poligami Aa Gym misalnya , pendakwah yang sebelumnya begitu disanjung sedemikian rupa. Orang-orang merindukan figur profetik. Ketika figur itu tak sesuai harapan, ia ditinggalkan.



Barangkali lebih bijaksana jika tidak menisbatkan 'munafik' dan 'amoral' kepada ZAM melainkan menitikberatkan kepada kesadaran atas kesehatan dirinya sendiri . Ataupun jika kita memiliki kepedulian pada cita-cita kesalehan, mengingatkannya untuk lebih baik berhati-hati terhadap sesuatu yang status hukumnya masih diperdebatkan. Mungkin pula ZAM perlu diberi sedikit kesadaran tentang psikologi masyarakat Indonesia, terkhusus umat Islam Indonesia. Merokoklah dalam kesenyapan (meski tidakkah ini lebih 'munafik' ketimbang terang-terangan seperti yang dilakukannya dalam foto tersebut?).



Seseorang di forum tersebut ngedumel : ribut banget seh perempuan berjilbab merokok. Emang gak biasa liat jilbaber-jilbaber di Turki, di AS atau di Perancis merokok?



Ya, mungkin tidak biasa?



Di negara-negara seperti yang disebutkan tersebut barangkali masyarakat bisa membedakan kemanusiaan seseorang secara lebih proporsional. Barangkali mereka juga tak terlalu perduli apalagi menisbatkan harapan-harapan profetik terhadap orang lain. Barangkali mereka lebih sibuk mengurus hal-hal yang dianggap lebih penting ketimbang perempuan yang menyesap sari tembakau. Barangkali juga film-film, sinetron, opera sabun di negara tersebut tak mengidentikkan tema-tema kebaikan dengan simbol-simbol agama dan kesalehan. Orang baik bisa berjilbab dan tidak berjilbab, orang brengsek bisa berjilbab dan tidak berjilbab.



Jika ZAM disebut amoral karena merokok, tidakkah buruh-buruh pabrik rokok yang Muslim sama amoralnya?