18 Januari 2009

OBAMA, JURU SELAMAT

Euforia atasnya tentu saja bukan semata bahwa ia menggebrak sejarah, terkhusus sejarah kepresidenan AS, negara raksasa yang entah sampai kapan meraksasa itu. Lelaki berkulit gelap dengan nama diri yang tidak Amerika : Barack Husein Obama. Manusia kulit hitam pertama yang manjadi presiden AS dengan nama berseparuh dengan almarhum presiden Irak yang mati digantung.


Mengapa ia sebegitu menyedot perhatian sehingga hampir semua negara perlu mengeksposnya habis-habisan dan menyanjungnya setinggi langit? Pelantikannya disiarkan berbagai televisi baik langsung maupun tidak. Demikian penting seorang presiden sebuah negara bagi hajat hidup orang banyak?


Well, AS raksasa berkuasa meski kini tengah sempoyongan dirundung krisis ekonomi. Jalin-kelindan ekonomi-politik-militer antarnegara di dunia ini sungguh berpusar pada AS. Negara inilah yang menjadi kiblat kapitalisme yang pernah dipercaya menjadi satu-satunya keniscayaan dalam berperikehidupn. JIka kiblat itu sempoyongan maka semponyongan pulalah jamaahnya.


Tempik sorak atas kehadiran seorang Obama menandakan ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang rusak. Sesuatu yang akut. Segelora besar harapan. Obama diperlakukan bak mesias bagi dunia yang perlu juru sembuh.


Suatu ketika ada negara luluh lantak. Atas alasan negara tersebut menyimpan Senjata Pemusnah Massal maka perang diperlukan. Ribuan mati sia-sia dalam 1001 justifikasi yang terus-menerus dibentuk dari Gedung Putih. Negeri seribu satu malam nan malang.


Manusia yang masih punya ceruk nurani geram tanpa bisa berbuat apa-apa. Kegeraman akut yang bermetamorfosis dalam wujud euforia akan mesias bernama Barack Obama. Dari negara raksasa tersebut diharapkan muncul pemimpin waras yang masih memiliki nurani selayaknya manusia baik-baik: membenci keserakahan, kesewenangan, dan kekerasan.


Bagaimana sekiranya juru sembuh itu kemudian hari tak memenuhi segenap harapan yang dibebankan kepadanya? Sebaiknya jangan terlalu banyak berharap. Namun tak perlu pesimis. Yang jelas, tidak mudah merombak sebuah sistem yang relatif mapan. Mampukah seorang Obama -misalnya- melepaskan AS dari kekuasaan lobi Yahudi yang mengakar demikian dalam ?Mampukah dia membuat perubahan kebijakan yang fundamental dalam peta konflik di Timteng -misalnya- dengan bersikap lebih keras terhadap Israel dan tanpa standar ganda khas AS ?



Atas segalanya, manfaat instan dari seorang Obama adalah bahwa kualitas kemudaannya menebarkan inspirasi positif bagi kehidupan demokrasi. Muda, pintar, bersih, visioner, dilengkapi rekam jejak multikulturalisme -sebentuk identitas gado-gado yang diharapkan mampu memahami dunia yang gado-gado.