If you saw a dog going to be crushed under a car, wouldn't you help him? (Oskar Schindler)
"I don't know what his motives were, even though I knew him very well. I asked him and I never got a clear answer and the film doesn't make it clear, either. But I don't give a damn. What's important is that he saved our lives." (Ludwik Feigenbaum)
"Whoever saves one life saves the world entire." (Talmud)
pabrik email dan amunisi OS
OSKAR SCHINDLER
Altruisme Sang Juragan
Altruisme Sang Juragan
Dalam masa Holocaust, Perang Dunia II (1939-1945), ada satu manusia yang dianggap sungguh berjasa menyelamatkan nyawa sekitar 1200 Yahudi. Dialah Oskar Schindler yang riwayat hidupnya dibukukan oleh Thomas Keneally dengan judul Schidler's Ark. Steven Spielberg kemudian mengangkatnya ke layar lebar dalam rasa dokumenter tahun liris 1993 yang -serupa kisah hidup Oskar Schindler sendiri- memicu perdebatan bukan hanya otensitas pembuat daftar, melainkan bahkan soal Holocaust itu sendiri.
Oskar Schindler mengingatkan saya pada tokoh Rhett Butler dalam novel Margaret Mitchell, Gone With The Wind : pengusaha oportunistik flamboyan yang mempu hidup melalui celah-celah peperangan bahkan menjadi makmur karenanya. Seorang pencari laba yang tetap menikmati hidup melalui pesta-pesta dan perempuan. Jamak bahwa dalam situasi chaos terdapat segelintir orang yang menangguk keuntungan. Di era kemudian, perang bahkan bisa diada-adakan, direkayasa, atau dijustifikasi dalam argumentasi ilmiah dan moral meski sejatinya demi industri senjata atau minyak.
Oskar Schindler beretnik Jerman dan dilahirkan di Zwittau (kini disebut Svitavy), merupakan bagian Austria-Hongaria pada tahun 1908. Kini kawasan tersebut masuk dalam Republik Cekoslovakia. Secara resmi ia warganegara Cekoslovakia beragama Katholik. Lulus sekolah ia bekerja sebagai salesman lalu kemudian mencoba berbagai bisnis yang berhadapan dengan Depresi Besar (Great Depression) yang melanda dunia pada kurun 1929 hingga awal 1940-an. Pada usia 17 tahun ia bergabung dalam Sudetendeutsche Partei, sebuah partai separatis Jerman di Cekoslovakia. Ia dipenjarakan pada tahun 1938 oleh Pemerintahan Czech dengan dakwaan melakukan kegiatan intelijen untuk militer Jerman. Oleh Perjanjian Munich ia dibebaskan dan bergabung dalam Partai Nazi pada tahun 1939. Ia pengangguran saat itu.
Jerman menginvasi Polandia pada tanggal 1 September 1939. Properti dan bisnis kaum Yahudi digulung, digunakan oleh Tentara SS NAZI atau 'dijual' kepada investor Jerman. Insting Oskar Schindler sebagai pedagang segera menemukan celah. Kedekatan dan aksesnya pada elit atau perwira tinggi NAZI serta koneksinya yang luas menyokongnya. Ia pindah dari Zwittau ke Krakow.
Sebuah pabrik bangkrut di Krakow (kota kedua terbesar di Polandia, saat itu menjadi ibukota Pemerintahan Jerman di Polandia) dibelinya dan diberi nama Deutsche Emaillewaren-Fabrik. Pabrik itu memproduksi barang-barang email dan amunisi berkualitas rendah (salah satu sumber bacaan saya menyebutkan ia sengaja memproduksi amunisi kualitas buruk untuk menghalangi kemampuan militer NAZI). Dalam menjalankan pabrik ia berkolaborasi dengan Itzhak Stern (kadang-kadang ditulis Isaac Stern), seorang akuntan Yahudi jenial anggota Jewish Council di Krakow yang juga merupakan perantaranya ke komunitas bisnis Yahudi.
kamp konsentrasi di Polandia
Merespon Final Solution The Jewish Question (die Endlösung der Judenfrage) ala Adolf Hitler yang digelar segera setelah Perang Dua II pecah, ghetto-ghetto Yahudi dibangun di kota-kota utama. Kamp-kamp konsentrasi pun dibangun, salah satunya di Selatan Krakow, Plaszow, sebuah area yang dibatasi kawat berduri dan parit, semacam persinggahan bagi orang-orang Yahudi sebelum dikirim ke Kamp Pembasmian seperti Auschwitz. Populasi Yahudi di Polandia saat itu diperkirakan 3,5 juta jiwa.
Protagonis kita mempekerjakan lebih seribu Yahudi di Deutsche Emaillewaren-Fabrik miliknya, di sebuah subcamp dimana buruh-buruh tersebut tak dapat disentuh oleh kekejaman Tentara SS NAZI. Sebagai kaum '"layak dibasmi" menurut Hitler, orang Yahudi adalah buruh murah yang sungguh menguntungkan. Hasrat oportunistik Schindler berubah menjadi hasrat memproteksi pekerja Yahudi-nya. Ia menempuh berbagai cara : memanipulasi data personal pekerja (umur dan keahlian). Sedapat mungkin ia menunjukkan betapa penting buruh Yahudi-nya dalam apa yang disebut Industri Esensial Penopang Perang. Ia menyogok perwira tinggi NAZI, berupaya berkarib akrab dengan Komandan Kamp Plaszow, Amon Goeth, mencegah para buruh dipindahkan ke Kamp Pembasmian. Ia mendirikan sanatorium rahasia dalam pabrik dengan peralatan dari Pasar Gelap.
Alih-alih memperoleh keuntungan, ia malah kehilangan banyak uang dalam upaya menyogok dan 'memelihara' kelangsungan hidup Buruh Yahudi-nya. Ia juga berupaya menyelundupkan anak-anak Yahudi untuk dikirim ke biara-biara di Polandia, selain hilir-mudik dalam kegiatannya di Pasar Gelap. Koleksi perhiasan istrinya -Emilie Schindler- pun dilego untuk membeli makanan dan obat-obatan.
Menjelang Tentara Rusia menduduki Polandia, Pemerintahan Berlin mengeluarkan instruksi untuk membersihkan Kamp Plaszow dan memindahkan tahanan ke Kamp Auschwitz. Oskar Schindler membujuk Amon Goeth agar membiarkannya memindahkan buruh-buruh Yahudi-nya ke Brunnlitz, Zwittau (bagian barat Cekoslovakia yang berbahasa Jerman), daerah yang menurutnya aman dari Final Solution Hitler. Bersama Itzhak Stern, ia menyusun daftar nama Pekerja Yahudi yang akan dipindahkan (sebenarnya : diselamatkan).
Salah satu rombongan Schindlerjuden (Yahudi-nya Si Schindler), para perempuan, nyasar ke Auschwitz, nyaris dibasmi jika Oskar Schindler tak keburu menyusul dan menegaskan kepada Tentara SS NAZI bahwa rombongan itu adalah Pekerja Esensial-nya. Dalam insiden ini, Schindler juga menyelamatkan anak-anak yang nyaris ditawan dengan beralasan tangan-tangan kecil mereka berguna untuk membersihkan proyektil.
Kongkalikongnya dalam penyelamatan Yahudi ini membuatnya ditangkap Tentara Gestapo (FBI-nya NAZI) dua kali atas dakwaan bergiat di Pasar Gelap dan Penggelapan. Namun berkat koneksinya di sana-sini, ia lalu dibebaskan.
Di ujung PD II, sebagai anggota Partai NAZI yang sekarat, tentu saja Oskar Schindler harus menyelamatkan diri. Ia mengungsi ke Buenos Aires, hidup sebagai petani dan mencoba berbagai usaha, namun gagal. Hidupnya kemudian ditopang oleh Organisasi Yahudi -- kaum yang ditolongnya. Pada tahun 1957, dalam keadaan bangkrut total dan meninggalkan istri, ia pindah ke Frankfurt, Jerman Barat saat itu. Ia mendirikan pabrik semen, sekali lagi ditopang Organisasi Yahudi, namun lagi-lagi ia mengalami kegagalan. Ia dianugerahi bintang kehormatan Righteous Gentile dari Pemerintah Israel tahun 1962. Berkaitan dengan hal ini salah seorang mitra bisnis Jerman-nya membatalkan kerjasama dengan alasan " Now it is clear that you are a friend of Jews and I will not work together with you any more ..."
Pihak Jerman menisbatkannya sebagai pengkhianat. Di jalan-jalan Jerman namanya dicemooh dan dirutuk. Ia bahkan dilempari batu. Di ibukota Israel, Tel Aviv, sebaliknya, ia begitu dicintai, dikepung penuh cinta, minum vodka dan cognag, bangun kesiangan bersama sang kekasih lalu kongkow-kongkow di kafe (Sungguh menarik ia disebut pengkhianat oleh Pihak Jerman, bangsanya. Ingat, Schindler pun pernah didakwa berkhianat oleh Pemerintah Cekoslovakia mengingat ia warganegara di situ atas aktivitasnya di Partai Sudetendeutche).
Saban motivasinya menyelamatkan Pekerja Yahudi-nya ditanyakan, Schindler menjawab : " "I hated the brutality, the sadism, and the insanity of Nazism. I just couldn't stand by and see people destroyed. I did what I could, what I had to do, what my conscience told me I must do. That's all there is to it. Really, nothing more."
Oskar Schindler wafat dalam usia 66 tahun, 9 Oktober 1974 di Frankfurt karena penyakit lever. Ia dimakamkan di Pekuburan Katolik di Bukit Sion, Jerusalem. Figurnya dianggap positif dalam pandangan orang Jerman masa kini. Tahun 1999, koper Samsonite kelabu Oskar Schindler yang berisi beberapa dokumen, termasuk yang kini dikenal sebagai Schindler's List, ditemukan. Terdapat pula catatan pribadi-nya seputar masalah alkoholik, womanizer dan koneksinya dengan Israel dan Yahudi Jerman.
Penutup
Seingat saya, ketika film Schinder's List diliris pada tahun 1993, ia dilarang beredar di Indonesia. Saya lupa alasannya. Namun ketika itu terdapat diskusi-diskusi mengenainya, termasuk yang diselenggarakan di salah satu ruangan di perpustakaan kampus saya, Universitas Hasanuddin. Alangkah gregetan mendiskusikan sebuah film yang belum ditonton.
Oskar Schindler sungguh tokoh penuh warna. Ia tentu bukan manusia sempurna jika kita ingin memerikan pahlawan ideal serupa dalam dongeng. Ia peminum berat, peselingkuh, pedagang oportunis yang menghalalkan segala cara. Namun Si Brengsek inilah yang menyelamatkan 1200 Yahudi yang saat itu hendak dibasmi secara sistematis. Saya berpikir-pikir, kira-kira orang seperti ini, dalam kacamata penganut agama Ibrahim, akan ditempatkan di Surga atau Neraka? Dalam salah satu wawancara, Emilie Schindler ditanyakan apakah suaminya "saint or devil", ia menjawab : "A Saint of The Devil..."
Kepada Oskar Schindler yang mungkin sedang melayang-layang di dunia sana, saya menghaturkan simpati atas hasrat berbaik hati-mu kepada kaum yang tertindas. Semoga lebih banyak manusia yang masih hidup sekarang ini menyadari sungguh hina membasmi dan meniadakan segolongan atau sekotak golongan manusia tertentu atas nama keunggulan ras, agama, kepercayaan, nasionalisme atau alasan apapun.



0 komentar:
Poskan Komentar