Selasa, 19 Oktober 2010

lindy dan azaria chamberlain

LINDY CHAMBERLAIN DAN DRAMA YANG DIINGINKAN

Kisah Lindy Chamberlain-Creighton yang terekam dalam biopic produksi  tahun 1988, A Cry In The Dark,  memerikan soal fakta obyektif dan syahwat publik akan drama.  Publik berupa kerumunan penonton televisi dan pemamah media komunikasi lainnya, aparat hukum dan kepolisian, para profesional, penjudi di bar, praktisi pariwisata, karyawan di kantor-kantor dan aktivis perempuan lebih memilih apa yang hendak mereka percayai ketimbang kemungkinan Lindy Chamberlain tak bersalah.


Pada tanggal 16 Agustus 1980 keluarga Michael Chamberlain tiba di Ayers Rock, bagian Selatan kawasan Northern Territory, Australia Tengah.  Ayers Rock atau dikenal juga dengan sebutan Uluru adalah formasi batu karang nan indah yang  ditemukan oleh William Gosse pada tahun 1873.  Nama Ayers Rock merujuk pada Sir Henry Ayers, Chief Secretary Australia Selatan saat itu.


Pasutri Chamberlain menyertakan tiga anak mereka; dua bocah lelaki dan bayi perempuan berusia dua bulan bernama Azaria Chantel Loren Chamberlain.  Hari kedua pada malam hari, atas saksi mata istrinya, Michael Chamberlain melaporkan bahwa seekor dingo (salah satu jenis anjing) masuk ke dalam tenda dan membawa kabur bayi Azaria.


Pencarian terorganisir dilakukan selama beberapa waktu. Pakaian berlumuran darah milik bayi malang itu ditemukan sementara jasadnya lenyap begitu saja.  Mungkin keluarga Chamberlain mengira persoalan selesai setelah mereka berusaha mengatasi duka nestapa. Namun penemuan pakaian bayi berlumuran darah dan jejak  darah dalam mobil keluarga, melalui tes forensik yang dianggap sangat meyakinkan, menyeret Lindy Chamberlain sebagai pembunuh dan sang suami, Michael Chamberlain sebagai anteknya. 


Kasus ini begitu menarik perhatian publik Australia. Kehidupan pribadi keluarga Chamberlain menjadi sorotan. Pers membuntuti bak kawanan burung nasar (saya suka sekali menggunakan metafora ini untuk menggambarkan pers yang  berburu-mabuk tak kenal lelah). Proses peradilan berhasil meyakinkan juri (dan publik) bahwa pasutri Chamberlain adalah pembunuh bayi mereka sendiri.


Film A Cry In The Dark berhasil menggambarkan bagaimana sesungguhnya imajinasi dan prasangka di kepala manusia menentukan apa yang disebut kebenaran.  Kebenaran di sini sesungguhnya adalah drama yang diinginkan khayalak.  Imajinasi liar yang makin terasah setelah anda membaca begitu banyak buku detektif.  Tentu saja orang-orang Australia itu merasa bak Sherlock Holmes.


Bahwa pasutri Chamberlain penganut Advent Hari Ketujuh dan Michael Chamberlain adalah seorang pastor menambah alur dalam labirin imajinasi.  Bukankah  begitu seru pembunuhan anak sendiri dengan motivasi keagamaan?  Jawaban tergagap di pengadilan bisa diterjemahkan sebagai kebersalahan.  Gosip, prasangka, hipotesis berbaur, menggelinding liar dan diterima sebagai fakta.  Di sini saya melihat -baik dari kisah keluarga Chamberlain dan keseharian- sesungguhnya kebanyakan manusia berpikir sangat sederhana.


Kita mungkin tak perduli bahwa adukan gado-gado imajinasi, prasangka, stereotipe dan gosip bisa mencederai orang lain. Sejak gedung WTC di New York berkeping-keping oleh serangan teroris pada tahun 2001,  Muslim di seantero dunia menanggung gado-gado tersebut.  Sekelompok orang menuding Islam dan isi Al Quran mengajarkan teror dan kejahatan.  Maka janggut, jilbab dan nama berbau Arab ( masih berlaku Arab=Islam, Islam=Arab) adalah indikasi antisosial.


Lindy Chamberlain dijebloskan di penjara selama kurang lebih lima tahun. Kelak tuduhan atasnya tak terbukti. Jaket Azaria ditemukan -item yang digambarkan Lindy namun terlambat ditemukan.  Kelak pun mengisahkan pada khalayak serangan dingo pada anak-anak.


Pers menyadari kebutuhan massa akan drama atau sesuatu yang dramatis. Khayalak membaca apa yang nampak.  Kedua entitas ini bersinergi dan saling mengambil keuntungan.  Lihat saja pers di negara kita Indonesia Tercinta belakangan ini.  Jika ada orang kaya berperkara dengan orang miskin, drama yang diinginkan (baca : angle yang diangkat) adalah pertarungan dua kelas sosial, penindasan Si Kaya atas si Miskin.  Jika ada Pengurus Rumah Tangga yang dijebloskan ke penjara oleh Sang Majikan, itu berarti PRT sangat tidak salah dan majikan sangat salah.


Alih-alih menyajikan informasi berimbang dan obyektif, pers terlebih dahulu memihak. Padahal perlu dibedakan sebuah kasus sebagai sesuatu yang obyektif dan keinginan kita membela kaum lemah sebagai sesuatu yang lain.  Baik sang majikan dan sang PRT memiliki kemungkinan bersalah dan tidak bersalah. 


Lindy Chamberlain harus mengedam di hotel Prodeo demi syahwat publik akan sebuah drama. Buku dan film-film tak cukup menampung hasrat primitif manusia akan kehancuran sesamanya.  Sesungguhnya manusia yang lebih sering berpikir sederhana, kita ini, adalah burung nasar bagi sesama.


catatan

0 komentar:

Poskan Komentar