PEMBESAR YANG SEDERHANA
Barangkali hendak menyindir pernikahan
barusan anak pembesar republik ini, beberapa media mengisahkan
kesederhanaan pernikahan putera presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad.
Terlepas dari komentar bahwa sajian kesederhanaan dari Iran tersebut hoax atau pencitraan belaka, intinya adalah pesan tentang kesederhanaan.
Hari ini Kompas memuat karikatur dengan semangat mirip. Tokoh Om Pasikom berkoar-koar : Jangan sirik ! Apa salahnya jadi orang kaya, bermewah-mewah, yang penting niatnya untuk rakyat !
Media yang sama tanggal 19 November 2011 berkisah alasan seorang anggota legislatif memilih Toyota Alphard sebagai tongkrongan : Jika naik Toyota Alphard, kami dapat rapat di dalam mobil karena di dalam mobil itu ada meja. Kalau naik mobil X (menyebut merk lain) yang jalan 80 km/jam saja sudah goyang, akan banyak anggota DPR yang meninggal karena kecelakaan.
Lebay, manja dan sialan. Tiga kata itu segera terbatin. Pastinya itu juga berembel demi rakyat. Rapat dalam mobil seolah sesuatu tindakan genting dan segera akan dilaksanakan. Seolah reaksi heroik. Jangan lupa syahwat akan gedung baru dengan alasan gedung lama semiring menara Pisa (yang kemudian dibatalkan).
Sea Games ke 26 di Palembang menampilkan citra gemerlap negara. Setidaknya ketika anda menonton pesta pembukaan dan penutupan, mirip menonton sinetron Indonesia keluaran rumah produksi tertentu : melulu perihal keluarga kaya raya . Jika penonton bukan orang Indonesia dan tidak hidup di republik ini, bakal mengira negara ini kebanyakan berisi orang-orang kaya.
Para pejabat publik membawa citra kaya raya itu kemana-mana. Ketika melakukan hobi studi banding, butik-butik barang branded adalah tujuan wajib, mencolok, dalam selaput artifisial semacam studi orang miskin, studi baju pramuka, studi jaminan sosial dan sebangsanya -bak pelajar tekun.
Hingga akhir hayat, Mohammad Hatta tak sempat membeli sepatu Bally impiannya. Beliau hanya sempat menggunting potongan iklan sepatu tersebut dan menyimpannya hingga akhir hayat. Mohammad Natsir hanya memiliki mobil pribadi merk Desoto. Mobil itu kusam. Ketika ditawari mobil mewah buatan AS, beliau menolaknya.
Pejabat publik di Malaysia menggunakan mobil produksi dalam negeri, Proton, bernilai Rp.350 juta. Sementara di India, para petinggi menggunakan Tata Ambassador berhaga Rp. 100 juta. Pencitraan kesederhanaan ? Yang jelas, dilakukan demi tidak melukai rakyat.
Setidaknya, jika para pejabat itu benar-benar kaya dan hendak melampiaskan hasrat hedonistiknya, tidak dilakukan secara demonstratif. Misalkan anda seorang makmur yang mampu belanja dompet seharga dua juta rupiah. Tegakah anda membeli barang dan merayakannya di depan kawan anda yang untuk makan saja susah ?
Jika anda tega, kelakuan anda mirip kelakuan para pembesar republik ini. Anda tinggal berkilah : Ini kan uang saya. Apa salahnya jadi orang kaya ? Jika anda wakil rakyat, bisa ditambahkan kalimat yang penting niatnya untuk rakyat :)
Jadi sebetulnya apa yang tersisa dari pertunjukan pesta para pembesar dan kelakuan kebanyakan wakil rakyat ? Mental OKB dan hati yang tidak sensitif. Kerinduan figur pejabat sederhana semacam Hatta dan Natsir seolah mimpi di siang bolong. Namun pasti tak lekang :)
akhirnya saya hanya bisa menyimpulkan bahwa 'rakyat mayoritas negeri antah berantah itu masih miskin. untuk menjadikannya kaya dan merealisasikan mimpi masa kecilnya, berkuasalah. kekuasaan adalah cara termudah untuk mewujudkan semua itu..
BalasHapussemoga saya salah....